Diberi Ubi saat Masih Taruna, Kini Moeldoko Beri Bantuan Rp3,5 M

Markus Yuwono, Sindoradio · Senin 08 Agustus 2016 16:28 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 08 510 1458161 diberi-ubi-saat-masih-taruna-kini-moeldoko-beri-bantuan-rp3-5-m-FIaMECohBy.jpg Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko (Foto: Markus/Okezone)

YOGYAKARTA - Pernah diberi ubi dan air putih oleh masyarakat saat masih menjadi Taruna Akademi Militer (Akmil), mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko rela merogoh kocek sebesar Rp3,5 miliar untuk membantu mengatasi kekeringan yang dialami warga Gunungkidul, Yogyakarta.

"Saya ingin memberikan hadiah kepada masyarakat Gunungkidul," katanya saat meresmikan saluran irigasi di Desa Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (8/8/2016).

Ia menceritakan, saat masih menjadi Taruna Akmil pada akhir 1970-an, dirinya dan taruna lainnya mengikuti rute Jenderal Sudirman dengan menyusuri perkampungan warga. Saat itu, kondisi Gunungkidul masih tertinggal dan tandus.

Namun, jiwa sosial masyarakat tetap tinggi. Hal itu terbukti saat para taruna melewati rumah penduduk, mereka menyediakan ubi, ketela pohon, gula merah, dan air putih.

"Alhamdulliah, setelah punya kesempatan, saya ingin mengembalikan darma bakti saya kepada masyarakat," ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Moeldoko rela merogoh koceknya sendiri hingga sebesar Rp3,5 miliar untuk membantu pengarian. Teknologi yang digunakan pun cukup unik karena untuk menaikkan air dari sungai menuju ke tanah persawahan yakni dengan menggunakan tekanan air untuk mengangkat air.

Moeldoko menjelaskan, untuk mengangkat air dari sampai ketinggian 134 meter diperlukan pipa yang panjang, sehingga memerlukan biaya yang cukup tinggi.

"Kelebihan dari sistem ini sangat efisien karena tidak menggunakan mesin, murni kekuatan arus yang dimanfaatkan, tidak dibebani membeli bahan bakar," ulasnya.

Selain membantuan pengairan, Moeldoko menjanjikan membantu penelitian mengenai tanah yang ada di sana karena tidak bisa menampung nutrisi dengan mendatangkan ahli.

Ia juga menjanjikan bantuan tanaman seperti padi dan jagung. "Kita menyiapkan tim dan sudah dilakukan uji coba, dan hasilnya mampu menghasilkan 9,4 ton per hektare, harapannya tanah kering disulap menjadi sawah," terang dia.

Seorang operator yang juga petani, Tohiran, mengungkapkan total ada 21 pompa air yang disebar di Desa Semanu dan Pacarejo. Air disuplai dari Kali Kepek yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk wisata Kalisuci.

Untuk mengantisipasi kekurangan air saat musim kemarau dan tidak mengganggu wisata pompa akan dioperasikan pada malam hari. "Sistem ini membantu masyarakat, karena tahun lalu lahan pertanian di sini puso (tidak menghasilkan panen) akibat kekurangan air," katanya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini