Share

Perdamaian Konflik di Timika Ditandai Panah Anak Babi

Saldi Hermanto, Okezone · Selasa 23 Agustus 2016 18:27 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 23 340 1471261 perdamaian-konflik-di-timika-ditandai-panah-anak-babi-1tl354zHfp.jpg Dua kubu sedang melaksanakan propesi panah anak babi (foto: Saldi/Okezone)

TIMIKA - Setelah berkonflik selama tiga bulan lamanya, dua kubu yang berseteru di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua, akhirnya berdamai. Prosesi perdamaian dilakukan melalui prosesi adat, yakni panah anak babi hingga tewas.

Panah anak babi yang merupakan syarat perdamaian secara adat, dilakukan oleh masing-masing Waemun atau kepala perang dari kedua kubu yang bertikai dan disaksikan langsung pemerintah daerah Kabupaten Mimika maupun Kabupaten Puncak.

 (Baca: Kronologi Pembunuhan di Kwamki Lama, Dendam Perang Adat Kembali Muncul)

Turut hadir dalam prosesi ini Bupati Puncak Willem Wandik dan Bupati Mimika yang diwakili oleh Wakil Bupati Mimika Yohanis Bassang, serta perwakilan anggota DPRD dari masing-masing daerah.

Usai panah anak babi hingga tewas di tempat, prosesi dilanjutkan dengan salam-salaman oleh kedua kubu sebagai tanda kembali terjalinnya silaturahmi. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian perdamaian antarkedua kubu oleh masing-masing perwakilan.

Dari kubu bawah diwakili oleh Atimus Komangal selaku orang yang dituakan, dan beberapa orang lainnya, yakni Abner Kiwak dan Jomanus Komangal. Sedangkan dari kubu atas dipimpin orang yang dituakan, yakni Hosea Ongomang, Pianus Ongomang, Dominggus ongomang, dan Demi Ongomang. Dilanjutkan oleh yang mewakili kedua kubu, dalam hal ini kepala suku besar Ilaga, Kabupaten Puncak, Jomi Kogoya.

Inti dari proses perdamaian ini adalah setelah menandatangani kesepakatan perjanjian perdamaian, kedua kubu tidak lagi boleh melakukan aksi saling serang yang menimbulkan korban. Jika hal tersebut terjadi, maka pihak keamanan akan mengambil tindakan tegas dengan memproses hukum oknum-oknum yang melakukan penyerangan tersebut.

Kedua kubu pun sepakat, jika terjadi suatu tindak pidana, maka tidak akan melibatkan kubu atau kelompok, melainkan oknum yang berbuat yang akan bertanggung jawab secara Individu.

Kapolres Mimika AKBP Yustanto Mujiharso di hadapan kedua kubu yang telah berdamai menyampaikan secara tegas bahwa tidak ada lagi tindakan maupun upaya menciptakan terjadinya konflik pasca-perdamaian ini.

"Sesuai perintah Kapolda, usai perdamaian ini jangan ada lagi yang bertikai atau berbuat tindak pidana. Kalau ada lagi terjadi, maka kita kepolisian akan mengambil langkah tegas apabila konflik ini kembali terjadi. Pokoknya kita akan tangkap dan proses sesuai hukum yang berlaku," tegas Yustanto kepada wartawan, Selasa (23/8/2016).

Dari kedua kubu yang sudah sepakat berdamai, meminta kepada pemerintah untuk mempercepat pembangunan di Kwamki Narama pascakonflik. Sebab, masyarakat menginginkan Kwamki Narama bisa seperti wilayah-wilayah lain yang ada di Kabupaten Mimika.

"Pemerintah harus segera membangun akses jalan di sini. Anggaran jangan dialokasikan ke pos lain. Kami ada dan harus sekarang juga dikerjakan, dan kami masyarakat Kwamki Narama sudah siap menerima pembangunan itu," kata Atimus Komangal.

Diharapkan, tidak ada lagi ada acara perdamaian selanjutnya, dalam arti tidak ada lagi konflik perang adat di Kwamki Narama. Perdamaian saat ini diharapkan merupakan prosesi yang terakhir kalinya. Sebab, kedua kubu menginginkan adanya kedamaian di Kwamki Narama.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini