Image

Air Mata di Jabal Rahmah

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Rabu 24 Agustus 2016, 06:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 08 24 337 1471601 air-mata-di-jabal-rahmah-D9CS5aML91.jpg

MAKKAH - Jarum jam menunjuk tepat ke angka 08.14 waktu Arab Saudi saat bus yang memuat 46 jamaah haji merapat di areal parkiran Jabal Rahmah, Selasa (23/8/2016).

Masih pagi memang, namun mentari sudah begitu pongah melontarkan sinarnya. Hawa dingin berubah drastis ketika kaki baru melangkah keluar bus. Kaca mata hitam, masker dan topi harus buru-buru harus dipakai demi sedikit mengurangi efek hawa panas dan sengatan matahari.

Hamparan tanah gersang seluas mata memandang segera menyambut diselingi burung-burung merpati yang beterbangan di sana sini, terusik langkah kaki-kaki manusia. Iya, jumlah burung-burung di pelataran Jabal Rahmah memang tak sebanding dengan seribuan manusia yang menyebar di nyaris seluruh penjuru perbukitan.

“Baiknya kita sarapan dulu di sana,” ucap Qomariyah, jamaah haji asal Mojokerto, Jawa Timur, sambil menunjuk area bebatuan di sisi barat timur Jabal Rahmah yang terlindung dari sinar matahari.

Dengan cekatan dia membersihkan bebatuan dari debu lantas menyodorkan paket makanan yang dibagikan oleh KBIH tempat dia bernaung ke anggota Media Center Haji.

Suasana akrab pun terjalin lantaran Mbak Qom, demikian saya menyapanya, yang kini berprofesi sebagai tenaga medis adalah kakak kelas waktu di Madrasah Aliyah dulu. Cerita tentang suasana sekolah, teman-teman, mbakyu saya yang sekelas dengannya, serta para guru menyelingi sarapan pagi kami. Celetukan para jamaah haji lain yang seusia dengan nenek saya pun sesekali menyela, mengingatkan cerita masa kecil di desa.

Namun jawaban Mbak Qom bahwa suaminya telah meninggal dunia, membuat perasaan saya jadi tidak enak. Jujur saya tidak tahu bahwa dia telah menjanda.

“Semoga segera ketemu penggantinya mbak,” hanya kalimat singkat itu yang bisa saya ucapkan untuk menutupi rasa canggung akibat salah bertanya.

15 menit berlalu, para jamaah lantas mengajak segera naik ke Jabal Rahmah lantaran mentari semakin meninggi. Rombongan ibu-ibu itu pun tertib melangkah di bawah komando saya menapaki jalan berupa tangga berliku. Instruksi agar berhati-hati saat berjalan betul-betul ditaati lantaran saat itu anak tangga sudah hampir tidak kelihatan dasarnya saking penuhnya kaki-kaki yang berebut untuk naik dan turun. Sampai juga rombongan di puncak bukit setelah berpeluh seperempat jam.

Rupanya bukan hanya di anak tangga terjadi kepadatan manusia. Puncak bukit sudah berubah laksana pasar kaget pada hari Minggu di komplek perumahan saya. Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia tumplek blek di bukit yang menjulang tinggi di Arafah ini.

Tugu penanda tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa yang menjulang tinggi menjadi pusat perhatian massa. Empat penjuru bagian bawah tugu yang dicat hitam legam nyaris tak menyisakan ruang kosong. Mbak Qom pun pamit untuk berdoa dan saya pun beringsut mundur mengamati situasi sekitar.

Jabal rahmah yang berarti bukit atau gunung kasih sayang merupakan tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah terpisah ratusan tahun, akibat diusir oleh Allah dari Surga. Keduanya diusir setelah melanggar larangan Allah, yakni memakan buah Khuldi.

Peristiwa ini, diabadikan dalam Alquran, surah Al-Baqarah ayat 35 dan 38 serta Al-A'raf ayat 19-25 dan surah Thoha ayat 123. Banyak jamaah haji yang meyakini berdoa di tempat ini bakal dikabulkan, meski tidak ada anjuran khusus untuk berdoa di Jabal Rahmah. Bagi yang masih lajang diyakini bakal dimudahkan memperoleh pasangan yang baik atau bagi yang sudah berumahtangga berdoa agar kehidupan mereka kekal sampai maut memisahkan.

Teriakan dan lambaian tangan dari pasangan muda suami istri berseragam batik biru tiba-tiba membuyarkan lamunan saya. Mereka minta tolong difoto dengan latarbelakang tugu Jabal Rahmah. Tampak serasi pasangan ini, gumam saya dalam hati ketika mengambil foto. Semoga mahligai rumah tangganya abadi seperti Adam dan Hawa.

Usai melayani permintaan mengabadikan gambar, sosok seorang ibu berpakaian hitam dengan paduan kerudung hitam yang saya yakini berasal dari India menarik perhatian saya. Dengan khusyuk dia menengadahkan tangan melawan teriknya matahari selama lebih dari 15 menit.

Air matanya tampak bercucuran tak menghiraukan kondisi sekitar yang penuh hiruk pikuk manusia. Tak jarang tubuhnya yang tak begitu besar terguncang bahu para peziarah lain, tapi dia tetap larut dalam doanya dengan posisi berdiri. Entah doa apa yang dia panjatkan.

Pandangan mata saya lantas beralih ke kerumunan manusia di empat penjuru tugu, tampak para jamaah berebut menuliskan nama-nama anggota keluarga atau orang yang disayangi menggunakan spidol atau pulpen, meski tulisan yang tercetak jadi tak jelas lantaran permukaan tugu dicat hitam legam. Di antara mereka juga tampak beberapa orang, terutama kaum hawa menangis sesengukan di kaki tugu Jabal Rahmah. Mereka larut dalam pengharapan kepada Ilahi, tak peduli meski banyak pasang mata memandang.

Mbak Qom pun menyelesaikan doanya saat mentari semakin menjulang tinggi. Kacamata hitam memang berhasil menutupi matanya, namun hidungnya tampak agak memerah dan suaranya agak parau terdengar.

“Berdoa biar lekas dapat jodoh ya mbak,” saya menggodanya dan hanya disambut dengan senyum tipis. “Semoga makbul doanya.”

Saya sendiri hanya memilih mengamati tingkah para jamaah, tidak ikut larut dalam linangan air mata di Jabal Rahmah. Dalam hati hanya terucap lirih kalimat,"Ya Allah jadikanlah maghligai rumah tangga saya seperti Nabi Adam dan Ibu Hawa. "

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini