Bisnis Prostitusi 'Bandung Agency' Dibongkar, Dua Mucikari Jadi Tersangka

CDB Yudistira, Okezone · Kamis 01 September 2016 13:33 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 01 525 1478574 bisnis-prostitusi-bandung-agency-dibongkar-dua-mucikari-jadi-tersangka-54g5l2nRUu.jpg Ilustrasi (Okezone)

BANDUNG - ‎Tim Subdit 2 Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat membongkar praktik prostitusi online lintas provinsi. Dua orang mucikari dari sindikat bernamakan Bandung Agency itu dijadikan tersangka.

Pengungkapan praktik prostitusi berawal saat jajaran Ditreskrimsus melakukan patroli cyber di media sosial Twitter.

"Ada satu akun yang bernama Bandung Agency di Twitter yang dicurigai oleh anggota kami. Jajaran pun menelusuri akun tersebut," ujar Wakil Direskrimsus Polda Jabar, AKBP Diki Budiman di Mapolda Jabar, ‎Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis (1/9/2016).

Dari penelusuran itu diketahui kalau akun tersebut melakukan praktik prostitusi. Akhirnya pada 11 Agustus 2016, polisi membekuk salah satu germo berinisial NNU (25) di sebuah hotel kawasan Kota Bandung.

NNU warga Jakarta Selatan diketahui sebagai mucikari. Ia diciduk bersama seorang pelacur dan seorang pria konsumen NNU.

Setelah mereka ditahan dan diperiksa, polisi mengembangkan kasus jaringan prostitusi online antarprovinsi tersebut.

‎"Dari hasil pengembangan, jajaran kita amankan satu pelaku lainnya yang juga diketahui sebagai mucikari, yakni seorang pria berinisial MIR (21) warga Kota Bandung," kata Diki.

Dari penangkapan terhadap NNU dan MIR, polisi mengetahui bahwa jaringan sindikat Bandung Agency itu kerap menjajakan PSK di kota-kota besar di Indonesia. Di antaranya ‎Bandung, Bali, Jabodetabek, Jambi, Malang, Medan, Kalimantan, Surabaya, Purwokerto, dan Yogyakarta.

Diki menjelaskan, jaringan tersebut s‎udah beroperasi setahun melakukan bisnis esek-esek.

Polisi menyita barang bukti di antaranya enam unit telefon genggam, beberapa buku tabungan, ATM, kondom dan alat bantu seks.

Atas perbuatanya, pelaku diganjar pasal berlapis terdiri Pasal 27 Ayat 1 juncto Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, Pasal 4 Ayat 2 huruf d juncto Pasal 30 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, dan Pasal 296 KUHPidana dan Pasal 206 KUHPidana.

"Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara," ucap Diki.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini