Ribuan Warga Eksodus Timor Leste Terkatung-katung di Sulawesi

Zulfikarnain, Okezone · Jum'at 16 September 2016 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 16 340 1491378 ribuan-warga-eksodus-timor-leste-terkatung-katung-di-sulawesi-QW13UOC4RL.jpg Pengungsi Timor Timur saat bertemu Presiden (Foto: Dok. Okezone)

MAKASSAR - Sekitar 1200 warga eksodus Timor Leste masih hidup terkatung-katung di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar). Selama 16 tahun menempati lahan transmigrasi, kelayakan hidup mereka masih "berjarak" dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut data KontraS Sulawesi, para eksodus tersebut tersebar di kecamatan Malili kabupaten Luwu Timur Sulsel dan kecamatan Tobadak Kabupaten Mamuju Tengah Sulbar.

“Mereka datang saat sengketa referendum Timor Leste 1999, gelombang pertama datang di tahun 1999 dan gelombang kedua pada tahun 2000. Mereka mengungsi saat rusuh berdarah referendum Timor Leste. Hingga sekarang kehidupan ribuan eksodus tersebut masih dalam taraf menengah ke bawah,” ungkap Nasrum, Kordinator KontraS Sulawesi saat ditemui di salah satu Warkop Makassar, Jumat (16/9/2016).

Sejak mendampingi eksodus Timor Leste di dua provinsi Sulawesi itu, KontraS menemukan beberapa persoalan krusial. Di antaranya, status lahan yang belum jelas dan pelayanan dasar yang belum terpenuhi.

"Sudah 16 tahun menempati lahan, tetapi sekitar 500 jiwa eksodus Timor Leste di Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, sampai saat ini belum memiliki kejelasan alas hak, baik itu SPPT, PBB dan sertifikat. Ribuan eksodus lainnya, rata-rata susah mengakses pelayanan kesehatan, air bersih untuk konsumsi rumah tangga juga belum ada sampai saat ini,” tambah Nasrum.

Kesulitan lainnya, lanjut Nasrum, pasokan listrik dari PLN belum menyentuh perkampungan eksodus Timor Leste. Selain itu, akses jaringan seluler susah, terutama di kecamatan Tobadak Kabupaten Mamuju Tengah, jaringan seluler di sana tidak ada sama sekali.

Faktor terkatung-katungnya kehidupan mereka, karena Pemerintah menempatka mereka di lahan hutan yang terpencil, saat pertama kali tiba di Sulawesi.

“Jarak untuk ke sana, butuh 2 jam lebih. Jalannya pun tanah berbatu. Sehingga akses sangat sulit dijangkau disana. Hal itu yang yang membuat pembangunan disana lambat,” lanjut Nasrum.

Ke depan, Kontras Sulawesi berharap Pemeritah lokal menaruh perhatian khusus terhadap pengungsi Timor Leste. Khususnya di Malili Luwu Timur, karena kehidupan eksodus di pelosok tersebut paling memprihatinkan dibanding lainnya.

"Kita berharap, Pemeritah memenuhi hak dasar mereka. Seperti halnya penduduk lokal lainnya," tutup Nasrum.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini