nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Canda yang Jadi Kenyataan di Balik Banjir Bandang Garut

Oris Riswan, Jurnalis · Sabtu 24 September 2016 18:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 09 24 525 1497810 canda-yang-jadi-kenyataan-di-balik-banjir-bandang-garut-jiTbEvxELz.JPG Banjir bandang menerjang Garut, Jawa Barat (Antara)

GARUT - Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, di luar dugaan banyak orang. 30 orang lebih meninggal dunia dan 22 dilaporkan masih hilang dalam bencana terjadi pada Senin 19 September 2016 dini hari. Kerugian materi, psikis, hingga sosial juga sangat besar.

Seorang warga Sukapadang, Elis (45) mengaku kaget atas peristiwa yang terjadi. Apalagi banjir bandang itu merenggut lima anggota keluarganya, dua di antaranya bahkan belum ditemukan.

Beberapa hari sebelum kejadian, Elis mengaku sempat diajak neneknya yang biasa dipanggil Oyoh untuk pindah tempat tinggal ke daerah Lapang Paris. Tapi, ia saat itu menolak karena Lapang Paris berdekatan dengan Sungai Cimanuk.

"Tiga hari sebelum kejadian Ma Oyoh bilang tinggal di sini saja karena di sini mah ramai. Saya bilang ah moal, sieun caah didieu mah engke paraeh (tidak mau, takut air sungai meluap nanti warga pada meninggal)," ujar Elis kepada Okezone, Sabtu (24/9/2016).

Saat itu, tak terpikir dalam benak Elis bahwa air Sungai Cimanuk akan benar-benar meluap. Ia saat itu hanya bercanda dan asal berucap. Bahkan Ma Oyoh saat itu membantah ucapan Elis bahwa di Lapang Pasir tidak akan terjadi banjir akibat meluapnya Sungai Cimanuk.

"Waktu itu hanya kelakar saja, enggak sengaja. Tapi ternyata kelakar itu jadi kenyataan," tutur Elis.

Kondisi banjir bandang di aliran Sungai Ciamanuk, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat (Wahyu/Antara)

Ia pun tak habis pikir candaan yang saat itu tidak disengaja menjadi realita. Apalagi banyak korban meninggal dan lebih dari 20 orang masih dicari petugas gabungan.

Elis sendiri terhindar dari bencana itu karena memang ogah pindah ke Lapang Paris. Ia memilih tetap tinggal di Sukapadang. Tapi lima anggota keluarganya yang tinggal di Lapang Paris jadi korban.

Kini, ia pun terus berharap agar keluarganya segera ditemukan. Hingga kini, masih ada dua keluarganya yang belum berhasil ditemukan oleh petugas. Ia setiap hari mendatangi lokasi pencarian demi melihat detik demi detik upaya pencarian.

Bagi Elis, bagaimanapun kondisi dua anggota keluarganya akan diterima meski ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Yang terpenting, jenazahnya bisa ditemukan dan dimakamkan seperti tiga anggota keluarganya yang lain.

Ia hanya bisa berdoa. Bahkan setiap sore, ia dan anggota keluarganya yang lain selalu mengadakan doa bersama sekaligus tahlilan untuk anggota keluarga yang jadi korban.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini