nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Yogya, Waspadai Lima Bencana Alam Ini Selama Pancaroba!

Prabowo, Jurnalis · Senin 26 September 2016 15:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 09 26 510 1498795 warga-yogya-waspadai-lima-bencana-alam-ini-selama-pancaroba-oALukJr8Vl.jpg Ilustrasi

YOGYAKARTA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta merinci ada lima ancaman potensi bencana seiring meningkatnya curah hujan saat pergantian musim dari kemarau basah ke penghujan saat ini.

Kelima ancaman potensi bencana itu mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, gelombang tinggi, dan petir. "Petir juga perlu diantisipasi. Kami memasukan petir karena hampir setiap tahun ada laporan masyarakat yang menjadi korban," kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY Danang Samsurizal, Senin (26/9/2016.

Banjir, longsor dan angin kencang, kata dia, masuk kategori paling rawan dari kelima ancaman bencana itu. Tahun 2015 lalu, Kabupaten Kulonprogo menjadi kabupaten paling banyak peristiwa banjir yang mencapai 31 kejadian.

"Setelah Kulonprogoro, disusul Bantul ada lima kejadian, Gunungkidul juga terjadi dua kejadian dan Kota Yogyakarta satu kejadian," tandasnya.

Berbeda untuk wilayah Sleman, yang notabene lebih tinggi dibanding wilayah lain. Kota Yogya meski kejadian kebanjiran minim, tapi masuk rawan banjir karena banyak masyarakat yang menghuni di bantaran sungai. "Khususnya dibantaran Kali Code dan Winonggo yang memang cukup padat," urainya.

Banjir yang terjadi di Kota Yogya, durasi cukup cepat karena kondisi geografis yang miring. Arus airnya juga sangat deras, sehingga jika tidak diantisipasi sejak dini, daya rusaknya juga cukup tinggi.

"Jika Code mudah dipantau dari kawasan Merapi, tetapi Winongo menjadi sungai yang sulit dipantau untuk kejadian banjir. Winongo tidak memiliki hulu yang pasti, karena berasal dari berbagai sungai kecil dengan intensitas arus yang berbeda," tandasnya.

Untuk itu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan seiring dengan cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini. Meski belum disampaikan secara resmi, tapi pihaknya sudah mendapat informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa tahun ini ada gangguan cuaca berupa hujan deras yang berlangsung cepat.

"Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat harus disiapkan. Seperti memindahkan aset-aset penting keluar dari daerah air, bagi warga yang memiliki kolam keramba juga harus diantisipasi," jelasnya.

Yang tak kalah penting, katanya, infrastruktur pada aliran sungai harus bisa difungsikan, seperti pintu air segera dibersihkan sampahnya. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah disungai juga perlu ditingkatkan.

"Kesiapsiagaan kami juga pasti ditingkatkan seperti pemantauan, komunikasi radio, dan lainnya. Untuk langkah terakhir kami menyediakan karung, bronjong, agar bisa menahan debit air," katanya.

Sementara untuk bencana longsor, pada 2015 semua wilayah DIY ada peristiwa. Longsor dengan kategori berat terjadi di dua kecamatan di Kulonprogo yaitu Kokap dan Girimulyo, sedangkan kabupaten lainnya termasuk sedang dan ringan.

"Untuk kejadian longsor di Kulonprogo sepanjang tahun 2015 ada 21 kejadian. Untuk Kabupaten Bantul terjadi dua peristiwa longsor," tandasnya.

Begitu juga angin kencang yang perlu diwaspadai bersama. Angin kencang, kata dia, sulit diprediksi karena kejadiannya begitu tiba-tiba dan berlalu begitu saja dengan meninggalkan jejak yang cukup merusak, baik insfrastruktur, bangunan rumah, hingga pepohonan besar yang tumbang.

"Ada lima kejadian angin kencan sepanjang tahun lalu yang menyebabkan korban jiwa di Kulonprogo, untuk Bantul juga lima kejadian, sedangkan Kota Yogya satu kejadian dalam satu peristiwa," tandasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini