Image

Pengalaman Muhammad Berhaji, Takjub Lihat Lift & Burung Besi

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Minggu 02 Oktober 2016, 14:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 10 02 337 1504134 pengalaman-muhammad-berhaji-takjub-lihat-lift-burung-besi-MZ855PfHXr.jpg jamaah haji asal Kabupaten Bombana, Muhammad (Foto: M Saifulloh/Okezone)

MAKKAH - Berhaji bagi kebanyakan orang merupakan perjalanan sekali seumur hidup. Tak mengherankan bila kemudian meninggalkan kesan mendalam. Seperti yang dialami Muhammad, jamaah haji asal Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Berhaji bagi dia tak sekadar datang ke baitullah, tapi menorehkan kisah-kisah baru diusianya yang menapak 80 tahun. Dengan berhaji dia memulai debut perdananya untuk banyak hal.

“Kalau turun dari kamar di lantai delapan gampang, lewat tangga, tapi kalau naik saya nunggu saja sampai ada orang yang naik lift lalu ngikut,” ujar Muhammad saat duduk santai di pelataran masjid di sekitar hotel tempat dia tinggal.

Maklum dia tidak tahu cara memencet tombol lift menuju kamarnya di lantai delapan Hotel Surra Man Raa Pemondokan 602, Syisyah, Makkah. Dia mengaku heran ada kamar bisa naik turun membawa orang.

Tinggal di hotel juga menjadi pengalaman baru baginya. Seumur-umur dia belum pernah tinggal di hotel. Bagi dia, hotel bintang tiga yang kini ditempatinya merupakan bangunan terbaik yang pernah ditinggali. Kasurnya sangat empuk, sayang anginnya dingin. “Rasanya wuih begitu di badan,” tuturnya.

Tapi Muhammad bersama tiga rekannya tak kehabisan akal. Jendela kamar dibuka setengah sehingga udara dingin dari AC sedikit ternetralisir. Hal lain yang membuat dia harus beradaptasi adalah mandi menggunakan shower. Dibutuhkan beberapa kali latihan agar lancar ketika menggunakan alat penyemprot air tersebut.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi, dia sangat berterimakasih kepada pemerintah yang sudah menyediakan kamar terbaik untuknya.

Cerita lelaki yang berprofesi sebagai petani itu lantas beralih soal pesawat terbang yang membawanya dari kampungnya ke Kendari lalu ke tanah suci. Ini juga menjadi pengalaman pertama baginya. Tentu saja dia merasa kikuk namun beralih takjub saat pesawat sudah mengudara.

“Pas tengok ke jendela tinggi sekali, langit tampak ujungnya seperti di tengah laut,” ujar Muhammad yang di kala muda pernah menjadi anak buah kapal tersebut.

Dia lantas terheran-heran dengan kecepatan burung besi terbang. “Dari Bombana ke Kendari kalau naik kapal jam enam sore sampai jam dua dini hari, ini naik pesawat cepat sekali,” ujarnya.

Muhammad yang tergabung dalam kloter UPG 21 tersebut baru merasa cemas dan bosan di dalam pesawat saat perjalanan menuju Jeddah, Arab Saudi, lantaran lamanya waktu tempuh sekira delapan sampai sembilan jam. Tapi semua perjuangannya terbayar lantaran mendapat pengalaman baru, menempuh jarak ribuan kilometer dari kampung halamannya.

Setibanya di bandara, proses panjang di imigrasi pun dilalui. Mulai dari pemeriksaan dokumen sampai bagasi. Seumur-umur baru kali ini dia memegang paspor. Beruntung semua proses berjalan lancar. Rasa kagum kembali muncul saat dia disambut bus-bus berukuran besar untuk membawanya ke Makkah.

Bus-bus ini, menurut dia, tak seperti yang ada di tanah air, tongkrongannya lebih gagah dan kabinnya longgar. Untuk masuk ke dalam bus pun dia harus naik tangga. Begitu sampai di Makkah, pulang pergi dari hotel ke Masjidil Haram juga disediakan bus.

“Gratis enggak ada lagi bayar, saya berterimakasih ke pemerintah, semua disediakan, tak rugi saya bayar ongkos haji,” ucapnya.

Layanan makan gratis dua kali sehari juga memunculkan rasa heran sekaligus syukur dibenaknya. Dia tak menyangka tiap hari dapat makan gratis dua kali. Lagi-lagi dia berujar tak rugi bayar puluhan juta untuk berhaji.

“Petugas sangat perhatian, makan disediakan, bus gratis, menginap di tempat bagus seperti ini. Pemerintah betul-betul perhatian ke rakyatnya,” ujar bapak empat anak tersebut.

Pengalaman paling mengesankan bagi Muhammad adalah bisa melihat Kakbah. Saat umrah wajib bersama rombongannya dia berasa seperti sendirian mengelilingi Kakbah. Itu lantaran rasa takjubnya diberi nikmat bisa sampai ke Baitullah.

Bareng rombongan tapi terasa sendiri, bersyukur akhirnya bisa sampai juga ke Kakbah, yang selama ini kita menghadap waktu salat,” tuturnya.

Cerita selanjutnya dari Muhammad adalah perihal gunung-gunung batu dan gurun pasir yang bertebaran di seantero Arab Saudi. Cerita-cerita yang dia dapat dari sejawatnya yang sudah berhaji dan kisah-kisah perjalanan para nabi di tanah suci ternyata benar adanya. Termasuk saat jutaan orang berkumpul dalam waktu bersamaan di Arafah, Muzdalifah dan Mina.

“Tak rugi kita jauh-jauh dan bayar mahal bisa menikmati pemandangan semua ini,” ujarnya sembari menunjuk sebuah bukit berbatu.

Sayang semua cerita itu masih belum bisa dituturkan kepada keluarganya lantaran komunikasi yang sangat terbatas. Dia hanya dibekali telefon genggam 'jadul' oleh anaknya. Alih-alih berinisiatif menelefon untuk menyampaikan kabar, mengangkat panggilan saja Muhammad masih mengandalkan teman-teman sekamarnya.

“Teman-teman di kamar sering teriak ‘mbah itu HP-nya bunyi terus cepat dipencet’ tapi saya enggak bisa,” tuturnya lantas tertawa sendiri.

Semangat Muhammad bercerita baru sedikit kendur ketika ditanya soal istri. Dia mengaku hanya bisa berangkat sendiri ke tanah suci, itu pun atas biaya patungan dari anak-anaknya. Lagi-lagi, baru kali ini dia terpisah jarak ribuan kilometer dalam waktu lama dengan sang belahan jiwa. Muhammad tak memungkiri rasa kangen mulai menghinggapi, terutama di waktu-waktu khusus bersama sang istri.

“Biasanya habis salat shubuh dari masjid sudah ada kopi, tinggal kita menghadap itu buatan istri, tapi sekarang di sini enggak ada,” tuturnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini