Image

Cerita Jurnalis Menembus Zona Bahaya, dari Erupsi hingga Desing Peluru

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Rabu, 5 Oktober 2016 - 05:10 WIB
Muhammad Harizal. Muhammad Harizal.

MEDAN – Getaran terlihat jelas di bibir Muhammad Harizal (40), saat memulai perbincangan tentang kisahnya menghadapi maut di zona bahaya Gunung Api Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada Desember 2013 lalu.

Keringatnya ikut mengalir deras saat mengingat kembali detik demi detik upaya melarikan diri dari sergapan awan panas hasil erupsi gunung api berketinggian  2451 Mdpl tersebut.

“Waktu itu kami diberitahukan oleh seseorang yang dikenal sebagai juru kunci gunung, bahwa akan ada erupsi besar dalam waktu tertentu. Kami lalu memutuskan untuk naik (ke kaki gunung) untuk mendapatkan gambar. Saking asiknya mengambil gambar, kami melewati waktu yang diingatkan, sampai akhirnya erupsi terjad," cerita Harizal.

"Ironisnya waktu itu saya dan tim lagi on cam, sedangkan teman-teman saya sudah pada melarikan diri. Kami lalu memutuskan untuk berhenti on cam, tapi terus me-roll kamera sembari berlarian menuju mobil untuk keluar dari zona bahaya. Waktu itu di perbatasan Desa Bekerah dengan Desa Suka Meriah, sekitar 2,5 kilometer dari puncak Gunung Sinabung. Masih di zona merah,”kata Harizal.

Harizal yang saat ditemui di Warung Kopi (Warkop) Jurnalis Medan, Jalan Agus Salim Kota Medan, Selasa (4/10/2016) bercerita, kala itu luncuran awan panas hanya berjarak beberapa belas meter dari mobil yang mereka tumpangi. Suhu udara waktu itu pun terasa panas, panas sekali sehingga Harizal dan dua rekannya yang berada di dalam mobil pasrah jika detik-detik itu merupakan detik-detik akhir hidup mereka.

“Saya sudah sempat merasa bahwa itu akhir hidup saya. Karena memang udaranya sudah sangat panas. Saya bersyukur, sopir yang membawa mobil kami bisa mengarahkan mobil ke arah berlawanan dengan pergerakan angin, sehingga kami bisa selamat. Saya masih ingat betul, saking takutnya waktu itu, saya ikut teriak-teriak seperti orang kurang waras,” kisah Harizal yang telah menjadi jurnalis televisi sejak 16 tahun lalu.

Harizal yang kini bekerja untuk salah satu televisi berita nasional, sebenarnya sudah melakukan peliputan erupsi Gunung Api Sinabung, sejak tahun 2010. Waktu itu Gunung Api Sinabung yang pernah tertidur selama 400 tahun, akhirnya kembali aktif untuk pertama kalinya.

Harizal punya cukup pengalaman dalam hal memantau aktifitas Gunung Sinabung. Aktifitasnya menjadi penggiat pencinta alam sejak di bangku kuliah, juga cukup membuat Harizal mempelajari tanda-tanda alam terkait aktifitas erupsi. Mulai dari arah dan kekuatan letusan, kekuatan getaran gunung, arah luncuran awan panas, hingga area terdampak. Harizal juga paham betul jalur-jalur tikus yang bisa digunakan untuk melarikan diri jika erupsi terjadi.

“Sebenarnya kita (jurnalis) kan sudah dilarang untuk masuk. Masyarakat juga. Tapi kita di sana untuk menyajikan berita separah apakah dampak erupsi gunung tersebut. Bukan untuk gagah-gagahan. Bukan pula keinginan untuk menonjol dibandingkan media atau jurnalis lain. Tapi kita ingin menunjukkan lewat pemberitaan dan memberikan gambaran terkait bahaya yang mengancam. Lebih kepada untuk menyadarkan masyarakat tentang bahayanya melanggar zona bahaya itu. Untuk itu kita harus mengambil risiko,” tukasnya. (qlh)

1 / 3
  • TAG :

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming