Nasib Ponari Kini, Ogah Sekolah dan Hidup Pas-pasan

Zen Arivin, Okezone · Kamis 06 Oktober 2016 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 06 519 1507545 nasib-ponari-kini-ogah-sekolah-dan-hidup-pas-pasan-QwwBSmua3P.jpg Ponari (kiri) kini hanya akrab dengan gadget-nya (Foto: Zen Arivin/Okezone)

JOMBANG - Masih ingat dengan si dukun cilik Ponari? Ya, pada 2009 bocah asal Dusun Kedungsari, Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ini benar-benar membuat heboh. Tak hanya di Jombang, kesaktian Ponari juga kondang hingga seantero Nusantara.

Bagaimana tidak, berbekal batu sakti yang konon ditemukan saat muncul petir menggelegar, bocah yang saat itu masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar ini mendadak tenar. Ribuan warga berbondong-bondong membanjiri kediamannya hanya mencari berkah bagi kesehatannya.

Tak dimungkiri, hal tersebut memberikan dampak yang luar biasa dari sisi sosial keluarga Ponari. Tingginya animo warga yang datang ke tempat praktik pengobatan Ponari kala itu membuat penghasilannya meningkat drastis. Rumor yang beredar, anak dari Mukarromah ini mampu menghasilkan uang hingga miliaran rupiah melalui praktik pengobatannya itu.

Namun kini, kondisi tersebut justru seakan berbanding terbalik. Nama besar Ponari si dukun cilik yang begitu kondang sekarang meredup. Pamor batu sakti itu kini tak lagi dilirik warga.

"Masih mengobati, namun sekarang sudah sepi, tidak seperti dulu lagi. Kadang ada pasien, kadang tidak," ungkap Ponari saat ditemui awak media, Kamis (6/10/2016).

Anak pertama Mukarromah ini menuturkan, menurunnya minat warga untuk berobat ke tempatnya terjadi sejak 2013. Sedikit demi sedikit, warga mulai meninggalkan praktik pengobatan Ponari.

"Kalau sekarang tidak tentu. Kadang ada satu atau dua, kadang juga tidak ada sama sekali," tambah Ponari sembari memainkan gadget-nya.

Hal itu senada dengan yang disampaikam Mukarromah. Berdasarkan penuturannya, penghasilan Ponari sebagai dukun cilik sudah tak sebanyak dulu lagi, bahkan cenderung turun drastis.

"Pendapatan tidak tentu, karena memang sehari itu tidak mesti ada yang berobat. Tidak seperti dulu lagi," tutur Mukarromah sambil menggendong anak keduanya yang masih kecil.

Mukarromah sendiri menyatakan tak tahu persis berapa rupiah yang didapat dari hasil praktik pengobatan anaknya kala itu. Sebab, minimnya pengetahuan membuat Mukarromah memilih memasrahkan semua uang hasil pengobatan kepada saudaranya untuk ditabung di bank.

"Semuanya saudara yang urus, termasuk menabung ke bank. Saya tidak tahu dapatnya berapa," terangnya.

Semua penghasilan tersebut lantas digunakan Mukkaromah untuk membeli tanah dan rumah yang kini ditempati. Hanya, saat ini ia sudah tak memiliki tabungan. Untuk kebutuhan hidup, keluarga Ponari hanya mengandalkan hasil dari mengolah lahan yang dibelinya dengan uang praktik pengobatan dulu.

"Sebagian sawahnya disewakan tidak digarap sendiri memang," paparnya.

Lalu, bagaimana dengan kesibukan Ponari saat ini? Mukarromah mengatakan bahwa bocah pemilik batu ajaib itu kini lebih banyak berdiam diri di rumah. Ia tak lagi mau melanjutkan pendidikan. Entah apa alasannya, namun Ponari lebih memilih berada di rumah ketimbang masuk sekolah.

"Tidak mau sekolah lagi, tidak tahu kenapa, mungkin malu. Keinginan kami ya harus sekolah lagi kalau bisa," harap Mukarromah.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini