Image

Pengajar Muda Ngumpul Bahas Pendidikan Indonesia

(Foto: Iradhatie Wurinanda/Okezone)

(Foto: Iradhatie Wurinanda/Okezone)

JAKARTA - Pendidikan mengalami transformasi dari waktu ke waktu. Adanya perkembangan teknologi yang pesat juga mampu mengubah kebiasaan pola belajar. Saat ini, berbagai informasi bisa diakses secara mudah, parktis, dan murah.

Sayangnya, di tengah kemajuan zaman dan era digitalisasi, kondisi pendidikan belum merata, terutama di pelosok Tanah Air. Hal ini menimbulkan kepedulian berbagai pihak, termasuk anak-anak muda yang ingin berkontribusi memajukan pendidikan.

Pada sesi diskusi, beberapa pengajar muda dan relawan berbagi pengalaman mengenai kondisi pendidikan di daerah-daerah. Ternyata, tak semua daerah memiliki kualitas pendidikan yang memprihatinkan sebagaimana yang ada di dalam bayangan orang-orang kota.

Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono menjelaskan, masalah pendidikan tidak bisa ditarik secara umum lantaran kondisi di setiap daerah berbeda-beda. Dalam komunitas lokal, persoalan pendidikan juga identik dengan kehidupan sosial masyarakat.

"Misalnya, tentang ketersediaan buku. Ada sekolah yang bukunya sudah lengkap tetapi sebenarnya kemampuan anak-anaknya kurang. Dilihat dari segi sarana-prasarana, ruang kelas, fasilitas, juga berbeda-beda," ujarnya di Kantor Indonesia Mengajar, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Executive Director Indonesia Mengajar, Evi Tresna menambahkan, peran anak muda terjun langsung untuk memajukan pendidikan merupakan bentuk inisiatif. Sebab, sebelumnya semua program pendidikan berasal dari pusat.

"Sekarang, guru-guru juga banyak berinisiatif. Kemajuan pendidikan suatu daerah bukan karena sebuah program, tetapi karena tumbuhnya penggerak di setiap daerah yang akan melanjutkan," sebutnya.

Diskusi tersebut turut menghadirkan dua pengajar muda, yakni Rahmat Danu Andika dan Patrick Samuel yang pernah mengabdi selama satu tahun di Halmahera Selatan. Keduanya merupakan bagian dari 621 pengajar muda yang sudah berpartisipasi sejak lima tahun Indonesia Mengajar berdiri.

"Saya angkatan pertama. Ketika pertama ke Halmahera Selatan, saya bisa melihat bahwa sebenarnya masyarakat di sana itu cukup bahagia. Tetapi standar pendidikan memang rendah. Dan salah satu tugas saya mengajak orangtua untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan," kenang Rahmat Danu Andika.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x