150 Negara Setujui Kesepakatan Perubahan Iklim

Ahmad Taufik , Okezone · Sabtu 15 Oktober 2016 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 15 18 1515766 150-negara-setujui-kesepakatan-perubahan-iklim-lFGYEMFWZj.jpg 150 setuju kurangi polusi udara (Foto: Sky News)

LONDON – Sebanyak 150 negara telah menyetujui kesepakatan perubahan iklim untuk mengurangi gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Dalam kesepakatan ini, sejumlah negara berkomitmen akan melakukan hal tersebut secara bertahap.

Menteri Pemerintahan Rwanda Vinncent Biruta dalam kesepakatan itu mengatakan bahwa sejumlah negara dibagi menjadi tiga kelompok. Mereka diberikan tenggat waktu yang berbeda-beda untuk mengurangi penggunaan gas hydrofluorocarbon yang diakibatkan oleh penggunaan pabrik. Demikian sebagaimana dilansir Sky News, Sabtu (15/10/2016).

Negara-negara maju, termasuk sebagian besar Eropa dan Amerika Serikat (AS), diharuskan mengurangi penggunaan gas sebesar 10 persen sebelum 2019 dan 85 persen pada 2036. Sementara lebih dari 100 negara berkembang, termasuk China, yang memiliki polusi udara terburuk di dunia, akan membekukan penggunaan gas menjelang 2024.

Sedangkan sebagian kecil negara termasuk India, Iran, Irak, Pakistan, dan beberapa negara Teluk yang akan dinegosiasikan kemudian akan memulai pengurangan gas pada 2029. Tenggat waktu ini adalah dua tahun lebih awal dari negara dengan polusi udara terburuk ketiga di dunia yaitu India.

Merespons kesepakatan ini, kelompok pemerhati lingkungan berharap kesepakatan tersebut dapat mengurangi pemanasan global sampai setengah derajat Celsius pada akhir abad ini.

Presiden Institut untuk Pemerintahan dan Pembangunan Berkelanjutan, Durwood Zaelke, mengatakan pernyataan bersama ini adalah penurunan suhu terbesar yang pernah dicapai oleh sebuah kesepakatan tunggal.

“Kompromi harus terus dilakukan, tetapi 85 persen negara-negara berkembang telah berkomitmen untuk melaksanakan hal ini pada 2024. Ini merupakan sebuah prestasi yang sangat signifikan," ujar Pemimpin Kampanye Iklim Badan Investigasi Lingkungan Inggris Clare Perry.

“Kesepakatan itu sama dengan menghentikan emisi bahan bakar fosil CO2 di seluruh dunia selama lebih dari dua tahun," ujar Direktur Program Udara Bersih dan Iklim di Badan Pertahanan Sumber Daya Alam David Doniger. 

(FIK)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini