Kesaksian Janda Korban Jembatan Kuning Roboh: Saya Dengar Suara Gemuruh

Raiza Andini, Okezone · Rabu 19 Oktober 2016 08:45 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 19 340 1518488 kesaksian-janda-korban-jembatan-kuning-roboh-saya-dengar-suara-gemuruh-zsFudKhgqf.jpg Keluarga korban Jambatan Kuning roboh. (Foto: Raiza Andini/Okezone)

NUSA LEMBONGAN – Desak Puspitawati (45) masih tak menyangka sang suami Putu Ardiana (46) tewas dalam insiden ambruknya Jembatan Kuning penghubung Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan pada Minggu 16 Oktober 2016.

Saat Okezone menemui kediamannya, air mata Desak telah kering, meski duka masih menyelimuti keluarga guru honorer Sekolah Wisata Dharma itu. Desak enggan mengingat kembali peristiwa nahas yang menelan puluhan korban jiwa di Jembatan Kuning tersebut.

Secara perlahan dia mampu menceritakan kembali kejadian itu, meski harus menahan air mata. Sebab, ada kenangan bersama sang suami saat peristiwa itu terjadi.

"Saya datang sama suami, anak, ipar untuk pergi sembahyang. Pada saat kejadian itu saya bertiga, saya dengar suara gemuruh, bruk gitu," terang Desak ketika ditemui di kediamannya, Nusa Lembongan, Rabu (19/10/2016).

Bunyi gemuruh itu bagai malaikat pencabut nyawa di Jembatan Kuning tersebut. Tali sling pengikat jembatan mengeluarkan api dan papan pijaknya menghantam air laut menenggelamkan ratusan pemedek atau jemaat yang hendak melaksanakan sembahyang di Pura Bakung Ceningan.

Tidak hanya ratusan manusia yang berada di atas jembatan berukuran lebar satu setengah meter itu. Belasan motor pun memadati jembatan yang telah berusia 22 tahun tersebut.

Desak saat itu berada di sebelah barat mengantre untuk menyeberangi lautan Nusa Lembongan. Beruntung dia masih hidup, meski sang suami tewas ditelan air laut.

"Kita ada di sebelah kiri jembatan, sempat tenggelam," tuturnya.

Janda dua anak itu mengatakan sang suami bisa berenang. Namun, ia tidak menyangka saat tenggelam nyawanya tak tertolong lantaran ratusan orang tumpah ke laut.

Sebelum peristiwa nahas itu terjadi, Desak tidak memiliki firasat apa pun. Ia tidak menyangka kejadian itu begitu cepat hingga menewaskan delapan orang, termasuk suaminya.

"Sudah ada pecalang saya kira itu sudah ada yang mengamankan, enggak menyangka terjadi kayak gini," ungkapnya lirih.

Dalam kesehariannya, Putu Ardiana merupakan seorang guru honorer di Sekolah Wisata Dharma yang mengajar Sosiologi dan Budaya. Dia mengaku sang kehilangan pria yang telah meninggalkan dua orang anak itu.

Kini, Desak bersama dua anaknya hidup tanpa kehadiran kepala keluarga. Jenazah suaminya akan segera dikremasi pekan depan.

"Nanti diaben tanggal 23 Oktober 2016," tutupnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini