Diduga Paksa Pasien Miskin Bayar Sewa, Warga Segel Ambulans RSUD

Markus Yuwono, Sindoradio · Kamis 20 Oktober 2016 21:06 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 20 510 1520429 diduga-paksa-pasien-miskin-bayar-sewa-warga-segel-ambulans-rsud-0TFlLvtnmh.jpg Warga Segel Ambulans RSUD Wonosari (Foto: Markus/Sindo Radio)

YOGYAKARTA - Pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dianggap masih buruk. Pasalnya, salah satu warga tidak mampu dipaksa membayar agar bisa menggunakan jasa ambulans.

Atas peristiwa tersebut, dua orang warga menggelar aksi protes dan menyegel mobil ambulans. Mereka memasang tulisan 'Ambulance RSUD Wonosari Tidak Berguna', 'Pasien miskin rumah sakit ini kesulitan gunakan ambulance'. Aksi tersebut pun sempat diwarnai aksi tarik menarik saat petugas menghalangi aksi mereka.

Salah seorang warga yang melakukan protes, Endro Guntoro mengaku prihatin dengan kondisi ini. Aksi ini untuk mengingatkan pihak manajamen agar memperbaiki layanan kepada masyarakat kurang mampu.

"Pelayanan untuk pasien miskin yang dilakukan sekadarnya,” kata Endro, Kamis (20/10/2016).

Ia menceritakan, salah satu rekannya yang menjadi pasien pemegang Jaminan Kesehatan Daerah DIY atas nama Edi Subroto, warga asal Kecamatan Ponjong, yang sudah dirawat selama 9 hari, tidak mendapatkan pelayanan maksimal.

Saat meminta dirujuk ke RS di Yogyakarta dirinya dan keluarga harus berdebat dengan pihak RSUD. Setahu mereka, dengan menunjukkan jaminan kesehatan, pasien kurang mampu tidak membayar ambulans.

Pasien atas nama Edi pun meninggal dunia pada 18 Oktober 2016. "Mereka itu pasien tidak mampu, kok disuruh membayar Rp270 ribu, uang itu untuk apa? Kalau tidak bisa menunjukkan aturannya, jelas pungli. Apalagi yang ditarik masyarakat kurang mampu dan memiliki jaminan kesehatan," sesalnya.

Atas perlakukan tersebut, pihak keluarga harus berdebat dengan pihak RSUD mulai dari bangsal hingga kasir. Akhirnya, keluarga itu memilih meninggalkan STNK kendaraan roda duanya untuk jaminan agar ambulans mau mengantarkan. Namun, upaya itu sia-sia, karena Edi meninggal dunia.

Menurut dia, aksi ini tidak hanya sekali, beberapa tahun lalu pernah terjadi hal serupa. "Aksi ini bukan atas nama masyarakat tetapi keprihatinan kami atas buruknya layanan RSUD," tandasnya.

Terpisah, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi RSUD Aris Suryanto mengaku belum bisa menanggapi aksi ini, dan harus menelurusi identitas pasien tersebut.

“Bagiamana mau berkomentar kalau pasiennya tidak jelas. Saya yakin kalau semua ada kejelasan, bisa dilakukan penelusuran,” katanya.

Ia berjanji, pihaknya akan mengambil langkah setelah mendapatkan kepastian mengenai data pasien.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini