Ribuan E-mail Ungkap Koneksi Kremlin dengan Pemberontak Ukraina

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 27 Oktober 2016 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 27 18 1526304 ribuan-e-mail-ungkap-koneksi-kremlin-dengan-pemberontak-ukraina-uU5UKGUKah.jpg Presiden Rusia Vladimir Putin dan penasihatnya Vladislav Surkov. (Foto: Reuters)

MOSKOW – Kelompok hacker Ukraina merilis ribuan e-mail yang diretas dari akun seorang pejabat tinggi di Kremlin. Kumpulan dokumen yang diretas kelompok CyberHunta itu mengungkap kontak antara Penasihat Presiden Rusia, Vladislav Surkov, dengan kelompok pemberontak pro-Rusia di Ukraina.

Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menyatakan, e-mail yang dipublikasikan CyberHunta adalah e-mail palsu. Peskov mengatakan Surkov tidak pernah menggunakan e-mail.

Sebaliknya, menurut Badan Keamanan Ukraina kumpulan dokumen tersebut adalah e-mail asli, meskipun mereka mengakui ada beberapa file yang telah direkayasa. Konfirmasi juga datang dari jurnalis Rusia Svetlana Babaeva dan pengusaha Evgeny Chichivarkin yang membenarkan e-mail mereka yang terdapat di dalam kumpulan dokumen tersebut adalah asli.

Diwartakan Associated Press, Kamis (27/10/2016), alamat e-mail yang diretas tampaknya bukanlah alamat pribadi Surkov melainkan alamat kantor yang dikelola oleh asistennya. Salah satu e-mail yang dikirim dari akun tersebut termasuk scan paspor milik Surkov, istrinya dan anak-anaknya.

Dalam kumpulan dokumen tersebut di antaranya terdapat e-mail dari Surkov kepada pimpinan kelompok separatis Ukraina Denis Pushilin. Melalui e-mail itu, Pushilin mengirimkan daftar korban dan jumlah pengeluaran untuk sebuah pengoperasian pusat media di ibu kota pemberontak, Donetsk.

E-mail lainnya datang dari kantor miliuner Rusia Konstantin Malofeev yang dilaporkan memiliki hubungan dengan pemberontak. E-mail tersebut berisi daftar menteri dalam pemerintahan kelompok separatis sebelum diumumkan secara resmi.

Konflik Ukraina yang pecah pada April 2014 setelah bergabungnya Krimea ke Rusia sampai hari ini telah menewaskan lebih dari 9.600 orang. Perjanjian yang coba disepakati pada 2015 telah sedikit mengurangi skala pertempuran, akan tetapi bentrokan masih terus terjadi dan usaha negosiasi politik terus tertahan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini