Polisi Ringkus Sindikat Internasional Penyeludupan Trenggiling

Ade Putra, Okezone · Kamis 27 Oktober 2016 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 27 340 1525948 polisi-ringkus-sindikat-internasional-penyeludupan-trenggiling-ARpZCqnmvZ.jpg Barang bukti yang disita petugas. (Ade P/Okezone)

PONTIANAK - Dua warga Pontianak, Kalimantan Barat yang hendak menyelundupkan satwa yang dilundungi ke luar negeri, ditangkap tim gabungan Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) dan Polda Kalimantan Barat.

Kedua warga masing-masing LN (34) dan AB (50) itu ditangkap di kediamannya Jalan Tanjungpura, Gang Martapura 2, Kecamatan Pontianak Selatan.

Mereka ditangkap berserta barang bukti penyelundupan berupa seekor trenggiling dalam keadaan hidup, 40 ekor trenggiling yang telah dikuliti sisiknya seberat 200 kilogram, empat ekor tupai tanah dalam keadaan mati, seekor kancil seberat satu kilogram dalam keadaan mati, satu unit mesin pembeku, dan satu buah "offset" trenggiling.

Kepala Seksi Wilayah III Pontianak, Kalbar, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPH-LHK), David Muhammad menjelaskan, penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat bahwa ada aktivitas penyelundupan satwa yang dilindungi.

"Informasi itu langsung kita tindak lanjuti dengan menurunkan tim SPORC Brigade Bekantan dan dibantu Ditreskrimsus Polda Kalbar," kata David di kantornya, Kamis (27/10/2016).

Saat digerebek, kata David, kedua sindikat ini tengah menyiapkan satwa-satwa tersebut untuk segera dibawa ke luar negeri. "Tak menunggu lama, keduanya langsung diamankan berikut barang buktinya," ujar David.

David mengatakan, kedua warga ini memang merupakan sindikat penyeludupan satwa yang dilindungi. "Dalam kasus ini baru LN yang kita tetapkan sebagai tersangka. Sementara AB baru sebatas saksi," ucapnya.

Meski demikian, tegas David, pihaknya masih memburu pelaku-pelaku lain. "Kami sudah mengantongi nama-nama pelaku lain dari sindikat penyelundupan satwa yang dilindungi ini," katanya.

Balai PPH-LHK Kalimantan dalam perkara ini kata David, pihaknya bekerjasama dengan BKSDA Kalbar untuk identifikasi jenis satwa dan titip rawat barang bukti satwa trenggiling yang masih hidup tersebut.

Bila terbukti bersalah, pelaku dapat dijerat dengan pasal 21 ayat (2) huruf a dan b atau huruf d Jo pasal 40 ayat (2) UU No. 5/1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Kepala BKSDA Kalbar Sustyo Iriono juga menambahkan, saat ini sindikat perdagangan satwa liar tersebut cukup besar. Modus mereka mendatangkan satwa liar dari berbagai pelosok Kalbar dan menjualnya ke luar negeri melalui Jakarta atau Sarawak.

"Kita harapkan perlu kerja sama semua pihak dalam memberantas praktik ilegal seperti ini. Dan termasuk untuk memberantas para pelaku penyeludupan ini tidak hanya dilakukan oleh aparat hukum, tetapi semua pihak dan instansi terkait," pungkasnya. (sym)

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini