nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berikut Nama-Nama Kandidat Pahlawan untuk Indonesia MNC Media 2016

Ulung Tranggana, Jurnalis · Senin 07 November 2016 18:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 11 07 337 1535270 berikut-nama-nama-kandidat-pahlawan-untuk-indonesia-mnc-media-2016-xdCTFyQWuG.png Ilustrasi Okezone

JAKARTA - MNC Media pada 2016 kembali menyelenggarakan program awarding ‘Pahlawan untuk Indonesia’. Program ini digelar untuk memberikan penghargaan kepada sosok-sosok yang berdedikasi tinggi, inovatif, dan melaksanakan kegiatan inspiratif yang bermanfaat bagi banyak orang.

Sampai saat ini, tim sudah menjaring 18 kandidat untuk kemudian diputuskan sebagai sosok yang layak mendapat penghargaan dalam event ‘Pahlawan untuk Indonesia’ kelima ini. Nama-nama disesuaikan dengan sembilan kategori untuk penganugerahan pahlawan untuk Indonesia.

Kategori Lingkungan

Pertama, Markus Hayon, pria asal Flores Timur, NTT, menjadi kandidat atas inisiatifnya menanam pohon jati dan mahoni di lahan seluas 52,7 hektare di sepanjang Pantai Samasoge sampai Desa Botung, Adonara, Flores Timur, NTT. Aksinya dimulai pada 2003. Tindakan penghijauan itu dinilai sangat berjasa untuk mengatasai kekeringan di sebagian daerah NTT. Kedua, Ismail Mustaming, pria asal Berau, Kalimantan Timur, itu menjadi pelestari laut dengan cara membangun kesadaran masyarakat menggunakan alat tangkap ikan ramah lingkungan.

Kategori Pendidikan

Rosa Dahlia (26) perempuan yang berani meninggalkan kehidupan nyamannya di Pulau Jawa, sejak tahun 2013 rela mengajar di desa pedalaman Papua bernama Tiom. Ia harus berjuang dalam memberikan akses pengetahuan dengan banyak kendala yang harus ia hadapi. Mulai perbedaan budaya, bahasa, sampai adat itulah Rosa tetap bertahan demi mengubah kondisi anak-anak pedalaman Papua untuk membangun kreativitas dan pengetahuan mereka. Membuat majalah, bahkan mendirikan organisasi di Papua itu akhirnya mulai tampak menunjukkan hasil yang baik. Mereka (anak-anak Papua-red) sudah mulai mengenal dan menguasai teknologi.

Kedua, Syafarudin yang biasa disebut Pak Taktung. Ia rela mengorbankan waktunya untuk mengajari anak-anak Suku Talang Mamak, Anak Dalam, dan Melayu Tua yang biasa hidup di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Desa Rantau langsat, Indragili Hulu, Riau. Meski hanya lulusan SD, ia berhasil mendirikan empat sekolah.

Kategori Kesehatan

Gisela Borowka, perempuan asal Jerman itu memenuhi panggilan hatinya untuk mengabdi di lintas negara. Perempuan dengan sebutan akrabnya Mama Barat itu, sejak 45 tahun lalu ia memutuskan untuk menghabiskan hidupnya demi menolong warga yang mengidap penyakit kusta di Kawasan Lembata dan Pulau Alor, Flores Timur, Nusa tenggara Timur (NTT).

Kandidat kedua adalah Bidan Rosmiati, ia dinilai berjasa karena berhasil merumuskan dan menjalankan berbagai terobosan untuk membantu proses pertolongan kelahiran di sebuah desa bernama Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragili Hilir, Riau. Masyarakat, atas Jasa Bidan Ros memiliki kesadaran untuk mengumpulkan dana rutin untuk persalinana para ibu-ibu di desa tersebut.

Kategori Pemberdayaan

Masjoko Silama, salah seorang pemuda yang menjadi kepala desa di Luwuk Banggai, Sulawesi tengah, menjadi aktor pemberdayaan sistem cluster potensi masyarakat di desanya. Berkat sentuhan dan kerja kerasnya pola pikir warga yang semula selalu berkonflik dengan desa tetangga behasil diubah dengan pembinaan dan pemberdayaan ekonomi.

Kedua, Yuli Suhigartati (46) yang melakukan pemberdayaan di dusun Brau, Batu, Jawa Timur. Mantan tenaga kerja wanita (TKW) ini setiap dua minggu sekali menaiki motor dari Blitar tempat ia tinggal untuk melakukan pemberdayaan masyarakat demi menyelamatkan lingkungan. Kotoran sapi ia ubah menjadi biogas. Bahkan ampas kotaran ternak ia ubah menjadi reaktor listrik dan makanan ternak dan pupuk organik.

Ketiga, Abdi Nur (48), pria asal Kuala Tungkal, Jambi, itu merintis sebuah usaha mikro dari bahan batang resam dijalin di antara batang rotan sebagai tulang bubu kemudian dibuat berbagai jenis kerajinan dari resam, seperti topi, tas, tempat tisu, vas bunga, wadah makanan, tikar, dan berbagai jenis peralatan rumah tangga yang bermanfaat.

Kategori Budaya

Tiga orang asal Muaro, Jambi yakni Zuhdi (61), Alfian (54), dan Maryam (74) mendirikan sanggar Mengorak Silo untuk menghidupkan kesenian Senandung Jolo. Sanggar itu didirikan untuk mengangkat kesenian tradisional yang sudah punah. Sampai saat ini kesenian Senandung Jolo menjadi ikon kesenian tradisional di Jambi. Kedua, perempuan bernama Roesiana (66) ia menjadi pelestari kesenian Dayak di Banjarmasin. Sanggar tari yang ia dirikan berbagai tarian asli Dayak diajarkan kepada anak-anak di Banjarmasin. Saat ini, para anak didiknya sudah menguasai berbagai kesenian tari asli Dayak.

Kategori Olahraga

Dimin (73), pria itu sudah puluhan tahun memilih mnjadi seorang pelatih untuk atlet berkebutuhan khusus di Jebres, Solo, Jawa Tengah. Atas konsistensinya Indonesia berhasil meraih 17 emas, 17 perak, dan 16 perunggu pada kegiatan multicabang ASEAN Para Games Singapura 2015. Bahkan setahun sebelumnya, atas sentuhan tangan dinginnya Indonesia menjadi jura umum ASEAN Para Games Naypyidaw 2014.

Kedua, perempuan beranama Stephanie Handojo (25), merupakan atlet berkebutuhan khusus yang memiliki prestasi internasional. Terpilih mewakili Indonesia di ajang Special Olympics World 2011 di Athena, Yunani, Stephanie meraih medali emas dari cabang renang nomor 50 meter gaya dada. Bahkan, meski ia terlahir dengan kekurangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Stephanie menggali bakatnya yang lain di dunia musik. Ia tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena mampu bermain piano dengan 22 lagu selama 2 jam.

Kategori Pelayanan Publik

Pria bernama KAI Untung Noor (60) menjadi tukang ojek inspirator pemadam kebarakan. Ia menyisihkan penghasilannya berjualan rokok dan bensin eceran untuk membeli mobil tua untuk dijadikan mobil pemadam kebakaran. Pada 2014 bersama komunitas Pemadam Musibah Kebakaran (PMK) ‘Penjelajah’ ia membantu orang-orang yang terkena musibah kebakaran. Ia pun menjadi relawan pemadam kebakaran di Banjarmasin dan sampai saat ini konsisten memadamkan kebakaran di berbagai tempat di sekitar Kota Banjarmasin.

Kategori Teknologi

Pemuda bernama Arfian Fuadi (28), menjadi seorang technopreneur, ia berhasil mendirikan jasa desain engineering bernama Dtech Engineering yang berdomisili di Salatiga, Jawa tengah. Hobinya menekuni dunia desain permesinan (engineering design) membuat ia memutuskan untuk mendirikan layanan desain engineering; bersama adiknya yang juga hanya lulus SMK. Ia memanfaatkan layanan www.elance.com – sebuah online marketplace untuk memasarkan beragam layanan ke seluruh dunia, guna memasarkan jasanya ke mancanegara.

Kategori Pertanian

Bahruddin (50) pria asal Salatiga, Jawa Tengah berhasil mendirikan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah. Organisasi itu didirikan untuk mengubah paradigma petani dari konidisi awal identik dengan rendahnya pendidikan, kemiskinan dan kaum terpinggirkan menjadi masyarakat petani yang lebih maju. Tak sekedar berbagi kiat dan teknologi pertanian. Ahmad Bahruddin yang akrab disapa Pak Din ini juga memperjuangkan hak-hak petani di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kini sedikitnya ada 17 ribu keluarga petani di Jawa Tengah yang bergabung dengan Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah.

Kandidat penerima kandidat Pahlawan untuk Indonesia MNC Media kategori pertanian kedua yakni, Abdul Kurnaen (61). Pria asal Kendal, Jawa Tengah, itu berhasil menjadi pembudidaya Jambu Getas. Petani yang merangkap pamong masyarakat di Desa Pagersari ini awalnya hanyalah petani padi di lahan tadah hujan seluas 1 ha. Abdul Kurnaen terpacu mempelajari pola pertumbuhan jambu getas merah. Setelah dua tahun membudidayakan pohon jambu, panen perdananya mengagetkan. Hasil panennya bagus, jambu sekitar 3-4 ons dan daya simpannya 6-8 hari.

Kandidat ketiga, Maria Loretha, perempuan asal Flores, NTT, itu telah membudidayakan makanan tradisional sebagai alternatif pangan bagi masyarakat NTT dan NTB. Ia bersama petani di Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, Kab Flores Timur, NTT, untuk membudidayakan dan mengembangkan tanaman biji-bijian (serelia) ini. Maria mendirikan "bank benih" pangan lokal. Kebunnya seluas 6 hektar dijadikan areal pengembangan beragam jenis tanaman seperti sorgum, jambu mete, kelapa, padi, jagung, dan jewawut. Upaya Maria mengembangkan sorgum cepat tersebar ke ranah Flores. Dia diminta melakukan pendampingan dan sosialisasi guna menggalakkan budidaya sorgum pada sejumlah kelompok tani di Kabupaten Ende, bagian tengah Pulau Flores, sisi timur Flores, hingga Kabupaten Manggarai Barat.

Dalam menentukan siapa yang layak mendapatkan penghargaan MNC Media melibatkan beberapa tokoh penting di republik ini untuk menjadi juri yakni: Mohammad Mahfud M.D dan Hary Tanoesoedibjo sebagai Juri Kehormatan, Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial), Prof. Firmanzah, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina), dan Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D (Rektor UGM Yogyakarta) sebagai Juri Eksternal.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini