Menanti Gelar Pahlawan untuk Sang Guru Bangsa

Zen Arivin, Okezone · Kamis 10 November 2016 16:47 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 10 519 1538126 menanti-gelar-pahlawan-untuk-sang-guru-bangsa-ivB80Es32l.jpg Tokoh lintas Iman berziarah ke makam Gus Dur (Foto: Zen Arivin/Okezone)

JOMBANG - Warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur, lagi-lagi harus menelan kekecewaan pada momentum peringatan hari pahlawan tahun ini. Kendati, telah diajukan sejak tahun 2010 silam, nyatanya gelar pahlawan nasional belum juga anugerahkan kepada KH Abdurrahman Wahid.

Entah apa yang melatarberlakangi lambannya pemerintah republik ini untuk menetapkan Sang Guru Bangsa itu menjadi pahlawan nasional. Padahal, sumbangsih yang diberikan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ri kepada bangsa ini sudah tak terhitung. Pluralisme yang ditularkan kiai nyentrik yang akrab disapa Gus Dur ini, menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa kian untuh.

Tentunya ini sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Mulai kaum santri, rakyat jelata, hingga berbagai pemuka agama turut menyesalkan, mengapa gelar pahlawan bagi Gus Dur tak kunjung anugrahkan oleh pemerintah.

"Kami sangat kecewa. Bagi kami para santri, Gus Dur itu merupakan panutan. Beliau adalah kiai, namun beliau juga bisa mengayomi semua umat," ungkap Santri Ponpes Tambak Beras Jombang, Muhammad Muizzuddin Luthfi (22), Rabu (10/11/2016).

Senada dengan yang diungkapkan Edy Kusmayadi. Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Jombang ini juga menyayangkan, pada peringatan hari pahlawan 10 November ini, pemerintah belum juga mengukuhkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional.

"Padahal Gus Dur ini sangat laik. Sumbangsih beliau kepada bangsa dan negara ini sudah tidak terhitung. Dan saya yakin, mayoritas warga di Indonesia setuju jika Gus Dur dinobatkan sebagai pahlawan nasional," sambungnya saat ziarah ke makam Gus Dur.

Tak hanya kalangan santri dan pemuka agama, para veteran perang pun juga mengungkapkan hal yang sama. Di mata mereka, sosok Gus Dur merupakan pahlawan sejati.

"Gus Dur merupakan presiden pertama yang menghargai jasa para veteran. Saya ingat betul, waktu beliau menjabat presiden, beliau yang pertama kali menaikan gaji pensiunan para veteran. Itu kenyataan," kata mantan anggota Sukarelawan Tempur Dwikora Brawijaya 1, Paelan (73).

Paelan pun mengaku rindu pada sosok presiden ke IV RI itu. Di bawah kepemimpinannya, perjuangan Indonesia untuk lepas dari krisis moneter dan kembali bersaing dengan negara lain menuai keberhasilan. Kendati di tengah perjalan, konspirasi di tingkat elit politik, memaksa Gus Dur untuk lengser dari kursi kepresidenan.

"Kami menangis ketika peristiwa itu. Kalau saja Gus Dur tidak meminta agar rakyat tenang, pasti kami akan berjuang kembali agar beliau bertahan. Karena bagi kami, Gus Dur adalah pahlawan," terangnya.

Kalangan GUSDURIAN Jawa Timur, juga mengatakan hal yang sama perihal belum di anugrahkannya gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur. Menurutnya, disaat negara tengah dilanda upaya pecah belah dari segelintir kelompok dengan menggunakan isu sara, pemberian gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur tepat untuk dilakukan.

"Dengan begitu, kita bisa bersama-sama merefleksikan seluruh pemikiran yang diajarkan Gus Dur," terang Penggerak GUSDURIAN Jatim, Aan Anshori.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Jombang, Hj Mundjidah Wahab mendesak pemerintah pusat untuk segera menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur.

"Kami mohon supaya dipercepat untuk pengurusan gelar pahlawan bagi Gus Dur. Apalagi prosesnya sudah cukup lama," kata Mundjidah, kepada awak media.

Putri KH Wahab Chasbullah ini juga menyadari, bahwa dalam proses penganugrahan gelar pahlawan tidaklah mudah. Serta memerlukan kajian dari berbagai sektor.

"Namun, menurut saya, sangat laik Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional. Karena jasa beliau, umat beragama di Indonesia hidup rukun, dan bisa duduk bersama tanpa memadang perbedaan, suku, agama dan budaya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini