nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Miris, Referensi Sejarah Pangandaran Mulai Punah

Syamsul Maarif, Jurnalis · Senin 21 November 2016 15:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 11 21 525 1547158 miris-referensi-sejarah-pangandaran-mulai-punah-Y7uuqTZF94.jpg

PANGANDARAN – Referensi sejarah lokal di Pangandaran kini mulai punah, hal tersebut terjadi lantaran dokumen sejarah tidak diarsipkan. Selain itu pelaku dan saksi mata mulai tutup usia dan tidak mewariskan cerita kepada keturunannya.

Salah satu sejarah sekaligus kearifan lokal yang mulai punah diantaraanya pembacaan sejarah Kacijulang. Padahal dalam kitab Kacijulangan tertera beberapa sejarah dan keterangan yang sudah tersusun oleh para karuhun atau orang terdahulu dari berbagai aspek.

Tokoh masyarakat Cijulang Abdul Gopar yang akrab disapa Opang mengatakan, arah pembangunan dan zonasi daerah yang saat ini masuk ke Kabupaten Pangandaran telah tertera dalam Uga Kacijulangan yang dirintis oleh Raden Wiratanu Ningrat.

“Uga merupakan ceritra orang tua dulu yang turun temurun dalam bentuk siloka yang akan terjadi pada masa mendatang, beberapa uga pun saat ini sudah menjadi kenyataan,” kata Opang, Senin (21/11/2016).

Dikatakan Opang, adanya pembangunan Bandara Nusawiru, Pelabuhan Laut Regional dan areal pertambang di Kecamatan Cimerak pun sudah tertera dalam Uga.

“Uga adanya pembangunan pelabuhan di Bojongsalawe tertera kalimat, lamun kembang wijayakusuma kasiram minyak, kalakay nyampai ka Batukaras artinya kalau pelabuhan Cilacap telah penuh dengan pertambangan minyak maka di Bojongsalawe akan dibangun pelabuhan baru,” tambah Opang.

Begitupun dengan lokasi Bandara Nusawiru, dalam uga Kacijulangan ada kalimat, sodongkopo bakal jadi pangeuntreupan papatong, ngan lamun hanteu tartib hartosna parele bakal papatong beneur anu euntreup. Ujaran itu berarti harus dibangun dulu perekonomian masyarakatnya baru Bandara tersebut dikembangkan.

Selain itu adanya aset pertambangan di wilayah Kecamatan Cimerak disimbolkan oleh jalur jalan kereta api yang dalam tujuan Belanda waktu itu akan mengeruk kekayaan emas dalam bentuk batu pirit atau emas muda.

“Raden Wiratanu Ningrat pun telah melakukan pemetaan untuk areal pertanian yang lokasinya di daerah Kecamatan Lakbok dan Padaherang,” papar Opang.

Opang menyebutkan, seandainya saja ada pelestarian sejarah dan budaya telah dipahami oleh masyarakat, pemerintah daerah bisa menyadur referensi dalam Uga.

“Dalam Uga pun tertera pemetaan zonasi untuk perekonomian dan bisa dijadikan acuan RUTR dan RTRW,” pungkasnya. (sym)

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini