Image

Belajar Toleransi dari Perguruan Alkhairaat Palu

ant, Jurnalis · Selasa 22 November 2016, 13:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 11 22 340 1548021 belajar-toleransi-dari-perguruan-alkhairaat-palu-tF7R0fL66P.jpg Ketua Utama Pengurus Besar Alkhairaat, Habib Said Saggaf Al-Jufri (Foto: Antara)

PALU - Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Yayasan Perguruan Alkhairaat, Habib Ali bin Muhammad bin Idrus Al-Jufri mengungkapkan bahwa perguruan Alkhairaat telah menerapkan makna toleransi antar umat beragama sejak dahulu.

Habib Ali yang juga Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah (Sulteng) itu mencontohkan, sejak masa pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri atau dikenal dengan 'Guru Tua', sudah ada sekolah-sekolah Alkhairaat yang menggunakan guru nonmuslim sebagai tenaga pengajar dan murid nonmuslim bersekolah di Madrasah Alkhairaat.

"Ketika mata pelajaran umum, semua siswa baik muslim dan nonmuslim duduk bersama, tetapi pelajaran keagamaan, anak-anak nonmuslim belajar dengan guru mereka sesuai dengan agamanya," ungkap Habib Ali di Palu, Selasa (22/11/2016).

Masih di zaman Habib Idrus, kata dia, ada salah seorang guru beragama Kristen mengajar pelajaran matematika, namun beliau sudah meninggal, sebagian keluarganya sudah menjadi muslim.

Lanjut dia, Alkhairaat memiliki salah satu madrasah di wilayah Kulawi, Kabupaten Sigi, waktu itu ada salah satu pendeta yang menjadi pengurus sekolah dan membantu untuk mencari dana dalam pembangunan madrasah.

Sekolah itu, lanjut Habib Ali, dipergunakan untuk anak-anak nonmuslim untuk belajar, ketika waktu pendidikan agama Islam, mereka keluar dan diajar oleh guru pendidikan agama mereka ditempat lain. Ada lagi sekolah Alkhairaat yang jumlah muridnya sebanding antara muslim dan non muslim.

Bagi Habib Ali, pelajaran agama harus diambil ilmunya dari seorang guru karena itu berhubungan dengan pemahaman, sementara ilmu umum dapat didapatkan di mana saja dengan kecanggihan terknologi saat ini seperti menggunakan internet.

"Karena dalam Islam sudah jelas sekali, lakum dinukum waliyadin, (terjemahannya) untukmu agamamu dan untukku agamaku," ujarnya.

Habib Ali menambahkan, di saat semua organisasi berbicara soal toleransi, Yayasan Perguruan Alkhairaat sejah dulu telah menerapkan yang namanya toleransi.

"Alhamdulillah, di saat organisasi lain masih berbicara soal toleransi, tapi Alkhairaat sudah melaksanakannya dalam bentuk praktik," katanya.

Adapun yang menjadi pertanyaan saat ini, mengapa masih ada saja daerah yang tidak menerapkan makna toleransi, padahal hal itu berhubungan dengan kepentingan, baik individu, kelompok maupun golongan.

"Jangan membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya hanya karena kepentingan pribadi," tekannya.

Namun, untuk Sulteng, kata Habib Ali, semuanya berjalan dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan Kapolda Sulteng dari masa ke masa, tidak hanya didominasi oleh kaum muslim saja. Tetapi ada juga yang nonmuslim yang diterima baik oleh masyarakat Sulteng, meski diketahui bahwa daerah ini mayoritas beragama Islam.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini