BMKG Ragukan Meteor Timpa Rumah Warga di Bengkulu

Demon Fajri, Okezone · Kamis 24 November 2016 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 24 340 1550358 bmkg-ragukan-meteor-timpa-rumah-warga-di-bengkulu-J39z0MulKS.jpg Batu diduga meteor yang ditemukan warga. (Demon F/Okezone)

BENGKULU - Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman meragukan, benda langit yang menimpa rumah Wahab, warga RT 16 RW 05 Sentiong Kelurahan Sukamerindu Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu sebagai meteor.

Merujuk pada alat sensor gempa yang terpasang di kawasan Universitas Bengkulu (Unib) Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu, tidak mendeteksi getaran, saat benda langit diduga meteor itu jatuh ke bumi.

Keraguan atas benda langit diduga meteor itu, sambung Litman, diketahui setelah mengecek data rekaman getaran sensor, pada Rabu 23 November 2016 yang dimiliki BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang.

[Baca Juga : Benda Diduga Meteor Jatuh Menimpa Rumah Warga Bengkulu]

''Saat benda langit jatuh ke bumi, alat sensor gempa tidak mendeteksi. Biasanya, ketika benda langit jatuh pastinya mengeluarkan getaran cukup besar dan terdeteksi oleh alat sensor kita,'' kata Litman, kepada Okezone, Kamis (24/11/2016).

Alasan lainnya, terang Litman, saat benda langit jatuh ke bumi atau menjebol rumah warga, tentunya akan berdampak tanah berlobang. Namun, kata dia, benda tersebut hanya menimpa dan merusak seng serta perabotan rumah tangga milik penghuni rumah.

''Tapi, bisa jadi itu benda langit. Itu mesti adanya penelitian dari pihak terkait. Kita meragukan hal ini karena rekaman getaran dari alat sensor kita tidak tercatat,'' jelas Litman.

Litman kembali mengulas, benda langit diduga meteor juga sempat jatuh di wilayah hutan Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, pada Senin, 26 Oktober 2015.

Dimana saat itu, suara yang dikeluarkan benda langit diduga meteor cukup kencang, dan menimbulkan getaran yang cukup kuat. Ditambah, adanya sinar yang terpancar saat benda langit itu jatuh ke bumi.

''Kalau waktu itu, alat kita merekam dan mendeteksi adanya getaran yang diduga disebabkan dari benda langit yang jatuh. Tapi, untuk yang kali ini alat kita tidak merekam getaran,'' pungkas Litman. (sym)

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini