Perjuangan Mengajar di Daerah Pelosok Negeri

Susi Fatimah, Okezone · Minggu 11 Desember 2016 18:10 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 11 65 1564212 perjuangan-mengajar-di-daerah-pelosok-negeri-ghGyxOnkPT.jpg Foto: Dok ITS

JAKARTA - Mengajar di pelosok negeri menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Ika Nurstya N dan M Sholihudin. Bagaimana tidak, alumni Pengajar Muda X itu harus berjauhan dari keluarga dan teman-teman selama satu tahun untuk mengajar siswa-siswi di daerah yang kurang mendapat pendidikan.

Sebelum ditugaskan, keduanya menjalani pelatihan selama tujuh minggu terdiri dari cara mengajar siswa SD, cara mengolah emosi, hingga cara bertahan hidup di alam bebas.

"Selama tujuh minggu pelatihan dan satu tahun masa pengajaran, kami memperoleh banyak ilmu diantaranya kepemimpinan," ungkapnya di acara Indonesia Mengajar Goes To Communities (IMGTC), seperti dinukil dari laman ITS, Minggu (11/12/2016).

Keduanya menceritakan berbagai pengalaman berharga yang mereka lalui di tempat-tempat ujung Indonesia. Ihu -sapaan akrab M Shalihudin- sempat dihadapkan dengan keadaan siswa-siswa yang tidak terkondisikan.

Dihari pertama, Ihu dihadapkan dengan tangisan dari siswanya. Hari kedua ada kepala salah satu siswanya yang berdarah, dan dihari ketiga ia harus menghadapi kebiasaan adat di Pulau Rote yang mengharuskan membalas pelaku pada hari kedua. Ihu pun mencoba memberi pengertian agar masalah yang terjadi diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua keluarga pun bisa didamaikan

Lain dengan Ihu, Ika yang mendapati menjadi wali kelas di salah satu sekolah di Maluku Tenggara Barat, sangat khawatir dengan jumlah guru yang sedikit saat masa kerjanya di Indonesia Mengajar habis.

"Saya memberanikan diri mengatakan pada kepala sekolah agar menambah jumlah guru karena jika saya kembali ke Pulau Jawa, sekolah tersebut akan kekurangan guru lagi," kata Ika.

Ika dan Ihu mengajak para mahasiswa ITS lebih peduli akan pendidikan di Indonesia. Keduanya berharap, kedepannya pendidikan di Indonesia lebih mengedepankan kebutuhan dari setiap siswa yang ada di daerah.

"Setiap daerah punya keunikan, budaya dan potensi yang berbeda," jelas ika, wanita yang saat ini bekerja di bidang konsultan pendidikan.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini