Image

Tanda Tangan Obama Dapat Melindungi Ateis

Silviana Dharma, Jurnalis · Jum'at, 23 Desember 2016 - 19:01 WIB
Ilustrasi. Ateisme. (Foto: Facebook via Huffington Post) Ilustrasi. Ateisme. (Foto: Facebook via Huffington Post)

WASHINGTON – Kabar gembira bagi kaum ateis di seluruh dunia datang dari Amerika Serikat. Presiden Barack Obama baru saja menandatangani amendemen UU Kebebasan Beragama Internasional yang pertama kali dirumuskan pada 1998.

Pembaruan hukum tersebut kini memungkinkan orang-orang yang tak percaya kepada Tuhan memiliki hak dan pengakuan yang sama layaknya kelompok agama tertentu. Obama yang kini sedang menikmati liburan panjang bersama keluarganya di Hawaii sejatinya telah mengesahkan ketentuan baru itu sejak Jumat pekan lalu.

Akan tetapi, kebijakan ini kurang mendapat sorotan. Tidak banyak orang mengetahuinya, jika bukan tergabung dalam kelompok ateis, agnostik, dan lainnya yang lebih suka menyebut diri mereka sebagai humanis. Salah orang yang bersorak dengan adanya kabar ini adalah Direktur Eksekutif lembaga nirlaba American Humanist Association. Ia mengatakan, hukum ini adalah perubahan bersejarah yang patut dirayakan.

“Sekarang orang yang tak percaya pada adanya Tuhan dapat diakui sebagai kelas sosial yang layak dilindungi. Ini menjadi langkah yang signifikan menuju penerimaan dan inklusi untuk individu yang tidak beragama selaku pihak yang selama ini sering mendapat stigma negatif dan penganiayaan di seluruh dunia,” terang Speckhardt, seperti dikutip dari NBC News, Jumat (23/12/2016).

Pertama kalinya secara spesifik UU tersebut memaparkan bahwa kebebasan berpikir, mengikuti panggilan hati dan beragama dapat dimengerti untuk melindungi ketuhanan dan ketidakpercayaan pada eksistensi Tuhan, serta sebagai hak untuk tidak berkeyakinan atau mempraktikkan agama tertentu.

Selain dapat menjadi pegangan untuk perlindungan kaum ateis, amendemen tersebut juga mengizinkan AS untuk menargetkan kelompok-kelompok yang mempromosikan kebebasan beragama, seperti kelompok radikal, ekstremis, dan teroris yang bukan bagian dari negara berdaulat.

UU Kebebasan Beragama Internasional yang baru itu juga memungkinkan AS untuk melacak para penjahat yang mengatasnamakan agama di luar negeri dan mengharuskan semua petugas dinas asing menjalani pelatihan kebebasan beragama.

“Para pemangku kebijakan akhirnya mengakui hak asasi kaum humanis dan memberikan perlindungan serta rasa hormat yang sama bagi komunitas ateis, selayaknya mereka memperlakukan kelompok beragama lain,” tambahnya.

Komisi Kebebasan Beragama Internasional 2016 merincikan dalam laporannya beberapa contoh kasus penganiayaan terhadap kelompok ateis. Arab Saudi misalnya, menjatuhkan hukuman mati kepada penyair Ashraf Fayadh karena dianggap telah menyebarkan paham ateis. Hukumannya diringkan pada Februari 2016 menjadi delapan tahun penjara ditambah 800 cambukan.

Menurut hukum Saudi yang disahkan Menteri Dalam Negeri pada 2014, mempromosikan ateisme dalam bentuk apa pun sama saja dengan terorisme. Selain Saudi, Mesir juga menjadi negara yang dapat kritikan keras dari lembaga NGO tersebut.

Komisi Kebebasan Beragama Internasional mengkritik keputusan pengadilan Mesir untuk menjebloskan seorang aktivis online, Mustafa Abdel-Nabi ke penjara lantaran dituduh menistakan agama. Tudingan itu berawal dari tulisan Mustafa tentang ateisme di laman Facebok-nya.

“Kebebasan beragama harusnya berlaku bagi semua orang, baik yang percaya Tuhan maupun tidak. Itulah nilai-nilai Amerika yang wajib kita lindungi,” tegas direktur legislatif American Humanist Association, Matthew Bulger.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming