Kelompok Teroris Poso Gunakan Senjata Buatan Pindad

Agregasi Antara, · Jum'at 23 Desember 2016 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 23 340 1574100 kelompok-teroris-poso-gunakan-senjata-buatan-pindad-wDBYy3TrSp.jpg pelaksanaan Operasi Tinombala

PALU - Wakil Komandan Satgas Operasi (Wakaops) Tinombala, Kolonel Infanteri Alfi Sahri Lubis mengungkapkan bahwa kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) saat ini masih memiliki dua jenis senjata yang aktif mereka gunakan.

"Senjatanya hanya dua jenis yakni SS1-V1 buatan Pindad dan M16A1," katanya saat dihubungi di Palu, Jumat (23/12/2016).

Ia melanjutkan, senjata tersebut dapat diketahui dari proyektil peluru yang bersarang di tubuh salah satu personel Satgas Tinombala, Prajurit Satu Yusuf Baharuddin yang gugur dalam kontak tembak, Selasa 20 Desember 2016 siang lalu.

"Kemungkinan dua jenis senjata itu, karena amunisinya hampir sama, yakni 5,56 mm," ungkapnya.

Menurut Alfi, pasukan pasukan Satgas Tinombala juga menggunakan jenis senjata yang sama, sehingga dengan melihat proyektil peluru itu, dapat diketahui senjata yang digunakan mereka.

Alfi juga meluruskan pemberitaan sejumlah media, yang menyampaikan bahawa dua orang personel Satgas Tinombala yang tertembak. Kata dia, yang dirawat di rumah sakit Poso yakni Pratu Imam bukan karena tertembak DPO, melainkan terluka saat proses evakuasi. Lubis mengatakan, kondisi korban saat ini sudah membaik.

"Kondisi korban sudah baik dan sudah bisa jalan. Jadi tidak luka serius," tandasnya.

Hal senada juga disamapikan Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Rudy Sufahriadi. Menurutnya, senjata yang digunakan DPO saat ini masih ada sekitar tiga buah. Hal itu terlihat dalam operasi dan berdasarkan penampakan yang juga dilihat masyarakat.

"Jumlah bom yang mereka miliki belum diketahui, tetapi untuk kepastiannya dapat diketahui setelah mereka tertangkap atau tertembak," ujar Brigjen Rudy.

Rudy yang juga penanggung jawab komando operasi (PJKO) Operasi Tinombala menegaskan bahwa daftar pencarian orang (DPO) anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso tersisa sembilan orang.

"Sampai hari ini, DPO kita ada sembilan orang yang menjadi buruan. Hal itu sama dengan penampakan yang dilihat masyarakat dan jejak-jejak yang kami temukan dilapangan, tidak pernah ada perubahan dari angka sembilan orang," katanya.

Ditambahkannya, pihaknya akan memperpanjang Operasi Tinombala hingga tahun 2017. "Operasi Tinombala akan berakhir 3 Januari 2017, tapi akan diperpanjang lagi sampai tiga bulan ke depannya," ujarnya.

Menurut dia, perpanjangan Operasi Tinombala bukan dikarenakan adanya kejadian satu anggota yang tertembak. Namun, hal itu sudah direncanakan sebelum insiden tersebut.

"Saya telah menginginkan untuk memperpanjang Operasi Tinombala ini. Jangan karena ada insiden ini baru operasi diperpanjang. Saya harus temukan yang sembilan orang itu, karena jangan ada duri dalam daging yang akan terus meresahkan masyarakat di Sulawesi Tengah," tegas Kapolda.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini