Image

31 Orang Tewas Akibat Pesta Miras Oplosan di Pakistan

Silviana Dharma, Jurnalis · Rabu, 28 Desember 2016 - 02:10 WIB
Keluarga menangisi korban miras oplosan di Pesta Natal Pakistan. (Foto: Reuters) Keluarga menangisi korban miras oplosan di Pesta Natal Pakistan. (Foto: Reuters)

FAISALABAD – Libur Natal telah tiba. Seluruh umat Kristen merayakan hari peringatan kelahiran Yesus Kristus ini dengan riang gembira setiap tahunnya. Tak terkecuali di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Pakistan.

Jelang malam Natal, mereka menyambutnya dengan minum-minum. Nahas, pesta tersebut berujung petaka. Sedikitnya 31 orang dinyatakan tewas akibat menenggak miras oplosan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Daily Mail, Rabu (28/12/2016), total 12 orang meninggal pada Senin 26 Desember dan 19 sisanya menyusul sehari kemudian. Insiden ini terjadi di Toba Tek Singh, sekira 321 kilometer jaraknya dari ibu kota Islamabad.

Polisi lokal, Atif Imran Qureshi mengatakan, puluhan lainnya telah dilarikan ke rumah sakit di Faisalabad di timur Provinsi Punjab untuk mendapatkan perawatan. Mereka sakit parah juga karena ikut pesta miras oplosan.

Umat Nasrani di Pakistan berjumlah 1,6 persen dari jumlah populasi nasional 190 juta penduduk. Sebagian besar menetap di Punjab.

Setiap tahunnya, umat Kristen di Pakistan merayakan Natal dengan menenggak minuman beralkohol. Pemerintah jelas tidak mengizinkan penjualan miras secara bebas karena negaranya kental dengan ajaran Islam.

Alhasil, harga miras sangat mahal di sana. Sementara umat Kristen yang miskin tidak mampu membelinya. Beberapa yang tahu cara penyulingan alcohol kemudian membuatnya sendiri di rumah. Hasilnya dijual dengan kantong plastik.

Fenomena ini memicu kematian massal setiap tahunnya. Sebab miras oplosan seringkali masih mengandung metanol yang berbahaya untuk dikonsumsi manusia.

“Pembuat dan penjual miras oplosan itu termasuk korban meninggal dalam insiden ini. Pembuatnya menyediakan miras itu di rumah dan menjualnya seharga 500 rupee atau Rp98ribu per kantong plastik,” ujar polisi senior setempat, Bilal Kamyana.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming