Meneropong Pergolakan Politik Dunia pada 2017

Silviana Dharma, Okezone · Senin 02 Januari 2017 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 02 18 1581269 meneropong-pergolakan-politik-dunia-pada-2017-fpKz7l7Q5T.jpg

JIKA 2016 dikenal sebagai tahun bergelimpangan konflik, krisis dan teror, akan jadi apakah 2017? Berikut Okezone mengulas beberapa agenda besar politik internasional beserta prediksi-prediksinya sepanjang 2017 ini.

1. Amerika Serikat

Mari kita mulai dengan negara adidaya, Amerika Serikat. Pada 20 Januari 2016, Donald Trump akan dilantik di Washington DC dan secara resmi menyandang predikat Presiden ke-45 AS.

Ilustrasi. Kabinet Trump. (Foto: Indianapolis Star)

Berdasarkan lansiran CNN, Selasa (2/1/2017), akan menarik untuk melihat bagaimana presiden yang bukan berasal dari kalangan politisi ini akan memimpin negara dan menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin dunia. Bahkan sejak belum menjabat saja, miliarder New York tersebut sudah menyebar bibit pertemanan dengan Rusia, Mesir, Taiwan dan Israel. Di saat yang sama, Trump juga menimbulkan kegetiran bagi China, Kuba dan lawan-lawan politiknya di dalam maupun luar negeri.

“Dia adalah sosok yang radikal. Sejauh yang kami tahu dari segala jenis politik modern, 2017 akan ditandai dengan banyak perubahan. Dan orang yang akan berperan dalam perubahan itu adalah Donald Trump. Mungkin kita akan bisa melihat lebih banyak makan malam kenegaraan, diplomasi meja makan untuk para koresponden Gedung Putih, konferensi pers, kicauan-kicauan personal dan penuh emosi di Twitter. Saya rasa dia sangat berbeda dan mendobrak tradisi kaku yang ada,” menurut pengamat politik dari Boston Globe, Matt Viser.

Menarik juga untuk melihat respons dan pergerakan dari Partai Demokrat yang kalah dalam pemilihan presiden kali ini, serta menjadi minoritas dalam parlemen dan kongres. Sementara di dalam Republik sendiri terjadi perpecahan. Di sini tentunya akan ada tarik ulur dan pertarungan kebijakan, mengingat ada banyak visi misi kampanye Trump yang amat bertentangan dengan apa yang sudah disepakati pada delapan tahun kepemimpinan Obama. Sebut saja di antaranya, Obamacare, rekonsiliasi dengan Kuba dan negosiasi nuklir dengan Iran juga penyelesaian konflik di Israel dan Palestina.

2. Eropa

Di Eropa sejumlah pemilu akan serentak diadakan. Di Prancis ada pemilihan legislatif dan presiden, Jerman pemilihan di tingkat parlemen, negara bagian dan presiden. Demikian juga pemilu akan terjadi di Albania, Armenia, Ceko, Hungaria, Liechtensteiner, Belanda, Norwegia, Serbia, Slovenia dan pilkada di Portugal, Inggris dan Georgia.

Prancis

Marine Le Pen dan Francois Fillon. (Foto: Getty)

Pemilihan paling menarik ada di Prancis dan Jerman. Presiden Francois Hollande memastikan tidak akan mendaftar untuk periode kedua kepemimpinannya. Popularitasnya memang menurun karena banyaknya aksi teror merebak di Prancis dan keikutsertaannya dalam pasukan koalisi antiteror di bawah pimpinan AS.

Keputusan ini lantas meninggalkan panggung persaingan jadi milik Marine Le Pen dari Partai Front National dan Francois Fillon dari Partai Republik pada 23 April mendatang. Walaupun tidak secara tersurat diumumkan, tetapi Fillon tampaknya telah mendapat dukungan dari Presiden Rusia Vladimir Putin.

Marine Le Pen seperti Hillary Clinton dijagokan untuk menang, tetapi New Statesman memprediksi kandidat fasis tersebut tidak akan keluar sebagai jawaranya. Prakiraan ini diilhami dari fenomena yang terjadi di Inggris melalui Brexit dan kemenangan Donald Trump di Pilpres AS 2016, serta kekalahan Perdana Menteri Matteo Renzi dalam referendum di Italia.

Inggris

PM Inggris Theresa May. (Foto: PA)

Omong-omong soal Brexit, perhatian dunia juga akan tersedot dengan negosiasi antara Inggris Raya dan Uni Eropa. Digadang-gadang, negosiasi pasal 50 ini akan berlangsung alot dan menguras banyak energi. Padahal, Perdana Menteri Inggris Theresa May berencana membereskan persoalan ini paling lambat pada Maret 2017. Demikian seperti disitat dari Scotsman.

Jerman

Kanselir Jerman Angela Merkel termasuk yang paling keras menentang Brexit. Jadi keterpilihannya kelak akan cukup berpengaruh dalam negosiasi keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa.

Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto: Wikipedia)

Di sisi lain, Merkel diterpa penurunan popularitas di dalam negerinya. Semua gara-gara kemurahan hatinya untuk tetap membuka pintu lebar-lebar bagi para pengungsi dari Timur Tengah. Padahal banyak teroris dilaporkan menyusup di antara para pengungsi. Belum lagi banyak pencari suaka ini suka mencari ribut dengan penduduk setempat.

Meski begitu, Stephen Bush dalam kolomnya di New Statesman optimis, Merkel akan tetap menjadi kanselir. Namun pengaruhnya berkurang.

3. Asia

Benua terbesar di dunia ini juga akan diwarnai dengan pergolakan politik sepanjang 2017. Terutama di Korea Selatan, pemakzulan Presiden Park Geun-hye sudah disetujui parlemen. Jika dia terbukti bersalah dalam skandal korupsi dan nepotisme, maka Negeri Ginseng harus segera mencari penggantinya dengan mengadakan pilpres sebelum akhir tahun ini.

Presiden Korsel Park Geun-hye. (Foto: Reuters)

Separatisme di China juga menarik untuk dipantau. Hong Kong dan Taiwan terus menerus mensinyalkan ingin merdeka dari Negeri Panda. Politisi-politisi muda bermunculan dari kedua daerah otonom tersebut. Lebih lagi Taiwan, belakangan mendapat pengakuan dari presiden terpilih AS Donald Trump.

PM India, Narendra Modi. (Foto: Getty)

Di India juga ada pemilihan umum, mulai dari tingkat daerah hingga kepresidenan. Twiplomacy menyebut, Perdana Menteri Narendra Modi diprediksi akan menjadi pemimpin dunia dengan pengikut terbanyak di Twitter setelah lengsernya Barack Obama.

Pilpres juga akan berlangsung di Turkmenistan, Singapura, Timor Leste, Mongolia dan Kyrgyztan. Sementara pemilihan legislatif digelar di Hong Kong dan Thailand.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini