nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Insiden yang Terjadi di Gunung Semeru Selama Musim Pendakian 2016

Hari Istiawan, Okezone · Selasa 03 Januari 2017 15:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 01 03 519 1582112 ini-insiden-yang-terjadi-di-gunung-semeru-selama-musim-pendakian-2016-u4f4GrqEJH.jpg Pemandanga Unung Kepolo dan Kalimati dari lereng Gunung Semeru (Hari Istiawan/Okezone)

MALANG - Jalur pendakian Gunung Semeru tahun lalu dibuka sejak 1 Mei 2016 dan akan ditutup sementara untuk pemulihan ekosistem mulai 4 Januari 2017. Selama delapan bulan empat hari dibuka, Semeru sudah dikunjungi ribuan manusia dan diwarnai berbagai insiden. Ada yang meninggal dunia, sebagian lagi sempat tersesat.

Berdasarkan catatan Okezone selama musim pendakian 2016, belum genap sebulan dibuka sudah ada laporan dua pendaki tersesat. Korban Zirli Gita Ayu Safitri dan Supyadi asal Jawa Barat mengalami disorientasi medan saat turun dari puncak Mahameru.

Zirli dan Supyadi dilaporkan tersesat sejak 20 dan 25 Mei 2016 di kawasan air terjun Gunung Boto, Tawon Songo, Lumajang. Keduanya ditemukan selamat oleh Tim SAR gabungan dalam kondisi lemas dan luka-luka setelah beberapa hari dicari.

Tak berselang lama, insiden kembali terjadi di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Pendaki asal Swiss, Lionel du Creux dilaporkan hilang sejak 7 Juni 2016. Ia mendaki secara ilegal bersama rekannya dan hingga kini masih misteri.

Lionel mendaki sejak 3 Juni lalu tanpa melapor ke petugas di Ranupani. Open SAR selama 10 hari belum berhasil menemukan keberadaannya hingga pendakian dibuka lagi pada 21 Juni 2016.

Dua bulan berselang, kabar duka kembali datang dari Gunung Semeru. Pendaki asal Jalan WR Supratman 123, RT 005 RW 012, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Ziman Arofik meninggal dunia karena sakit pada 13 September 2016.

Pada 3 Oktober 2016, Chandra Hasan, pendaki asal Cakung, Jakarta Timur, meninggal dalam perjalanan menuju Ranukumbolo. Ia mengeluh sakit dan sempat tidak sadar saat berada di blok Landengan Dowo.

Selanjutnya pada 8 Oktober 2016, Sahat M Pasaribu, pendaki asal Sidamukti, RT 003 RW 022, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok juga meninggal di Semeru. Sebelum meninggal, Sahat mengeluh masuk angin dan berkali-kali muntah. Cuaca hujan dan angin kencang menambah kondisi fisik korban melemah hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di depan rekan-rekannya.

Menjelang penutupan pendakian, pada 4 Januari 2016, kabar tersesatnya pendaki di Semeru kembali mencuat. Hingga kini, Tim SAR gabungan masih mencari tiga penyintas yang kesasar itu. Informasinya terakhir keberadaan mereka sudah terdeteksi.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini