nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemuda 21 Tahun Penderita Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan Dermawan

Prabowo, Jurnalis · Minggu 08 Januari 2017 15:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 01 08 510 1586115 pemuda-21-tahun-penderita-tumor-ganas-butuh-uluran-tangan-dermawan-SgwJurqMOZ.jpg M Yusuf penderita tumor ganas tengah berbaring di RS Panti Rapih Yogyakarta (Foto: Prabowo)

YOGYAKARTA - Muhammad Yusuf (21) baru bisa berbaring pagi tadi di RS Panti Rapih Yogyakarta setelah beberapa bulan menahan sakit tanpa mendapat perawatan medis. Anak terakhir dari empat bersaudara itu menderita tumor ganas (sarkonal mesenkimal).

Empat hari lalu, dokter sudah menyarankan untuk opname di rumah sakit. Tapi karena kamar rumah sakit dengan layanan BPSJ penuh, dia antre menunggu sampai ada kamar yang kosong. Di tengah menunggu, dia harus keluar masuk rumah sakit untuk menjalani rawat jalan.

"Tadi malam pukul 19.00 WIB masuk ke UGD, kemudian sekitar jam 00.00 WIB tadi malam pulang. Pagi ini masuk lagi rumah sakit, alhamdulillah dapat kamar, jadi adik saya baru bisa opname di rumah sakit mulai hari ini," kata Martiyah (26) kakak kedua dari M Yusuf, Minggu (8/1/2017).

Perempuan yang akrab disapa Tia itu menceritakan, Yusuf menderita sakit sejak Bulan Agustus 2016 lalu. Awalnya, ada benjolan kecil di bawah telinga sebelah kanan. Benjolan kecil sebesar ujung jari kelingking itu kadang terlihat, kadang hilang sendiri.

"Pertama yang dirasakan adik saya itu enggak apa-apa, cuma sering capek, bahu sebelah kanan rasanya seperti pegal-pegal, kerja berat dikit enggak kuat, capek rasanya," katanya.

Setelah ada benjolan itu, pihak keluarga berinisiatif melakukan operasi di rumah sakit swasta tak jauh dari tempat tinggalnya di Serangan, Ngupasan, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.

"Agustus 2016 itu operasi. Kita pikir misal dioperasi kemudian hilang. Beberapa hari setelah operasi bukannya hilang, tapi malah tumbuh jadi besar. Kita periksa lagi di rumah sakit," katanya.

Tim medis rumah sakit swasta itu melakukan pemeriksaan. Setelah dicek, ternyata ditemukan sel-sel ganas. Rumah sakit swasta ini tidak mampu menangani dan memberi rujukan ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta yang peralatannya lebih komplet.

"Di Sardjito diperiksa lagi, masih nunggu kamar, hampir dua bulan, sampai sekarang tidak ada panggilan, katanya suruh nunggu, mau dihubungi kalau ada yang kosong," katanya.

Selama itu, Yusuf hanya terbaring di rumah. Dia juga harus keluar sebagai karyawan di salah satu Mall di Yogyakarta. Pekerjan menjadi juru parkir di Mall yang berada di Jalan Lingkar Utara, Depok, Sleman harus ditinggalkan.

Hampir setiap saat, Yusuf merintih kesakitan akibat benjolan-benjolan yang terus membesar. Empat hari terakhir ini, benjolan sudah sampai ke bawah, yakni bagian tenggorokan. Bahkan, Yusuf tidak bisa mengunyah atau menelan makanan karena tenggorokannya sakit. Dia harus menggunakan infus sebagai nutrisi pengganti makan dan minum melalui selang dari hidung.

"Kita melihat adik sudah kesakitan, melihat perkembangan benjolan semakin besar, kita inisiatif periksa ke RS Panti Rapih, kemudian mendapat pengobatan di sini, cek-cek lagi, ya sekarang kita pengobatan di sini," kata Tia.

Dokter sudah menvonis ada tumor ganas di tubuh Yusuf. Namun, saat ini masih dilakukan penelitian mendalam apakah sudah masuk kanker atau belum, meski dugaan awal ada. Untuk pengobatan, tidak bisa langsung dioperasi mengangkat sel-sel tumor tersebut.

"Dokternya juga bilang, istilahnya, obat-obatan sudah engak mempan. Ini sudah enggak bisa dioperasi lagi," jelasnya.

Lalu, kata dia, jalan yang ditempuh untuk penyembuhan dengan melakukan kemoterapi. Penjelasan dokter yang diterima, kemoterapi ada model laser, yakni dipanasi dengan sinar dan ada juga yang lewat jarum suntik. Jika melalui suntik, maka ke dalam badan pasien dengan tujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang ada.

"Ini baru masuk, jadi belum dilakukan kemoterapi. Katanya masih nunggu hasil tes-tes kemarin saat masuk hasilnya belum keluar. Sekarang adik saya sudah di rumah sakit," katanya.

Soal biaya, Tia mengakui ada beberapa obat yang tidak bisa ditebus dengan BPJS sehingga harus dibayar. Begitu juga perjalanan ke rumah sakit yang hampir setiap saat sebelum opname (menginap).

"Sudah banyak, enggak terhitung lagi, apa yang kita punya sudah terjual, sapi misalnya, belum lagi harus utang sana-sani untuk biaya adik saya," katanya.

Dia berharap agar Yusuf segera pulih. Jika ada yang ingin membantu meringankan beban biaya pengobatan, pihak keluarga sangat terbuka menerima uluran tangan dermawan. (ran)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini