Image

Berjalan Kaki 7 Km, Pratu Abdul Aziz Ajar Siswa-Siswi di Pedalaman

Foto: Dina Prihatini/Okezone

Foto: Dina Prihatini/Okezone

TIDAK saja menjalankan tugas negara, Pratu Abdul Aziz yang bertugas di perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Barat itu harus menjalankan tugas rangkap. Selain harus menjaga kedaulatan NKRI, ia juga menjadi guru bantu di sana.

Dimulai pada pagi hari, Pratu Abdul Azis harus berjalan kaki kurang lebih 7 kilometer dari Pos TNI di pedalaman Kalbar menuju SDN 21 Desa Sungai Pisau. Sekolah terpencil di daerah perbatasan itu kekurangan guru dan sarana penunjang.

"Sudah tiga bulan lamanya saya mengajar di SDN 21 Sungai Pisau Kecamatan Senaning ini,” ujar Abdul Aziz kepada Okezone, belum lama ini.

Di sana ia mengajar PPKN, seni, jasmani, dan Pramuka. Ia mengaku selama ini kondisi anak-anak di pedalaman perbatasan sangat memprihatikan. Mereka kesulitan mengejar cita-cita karena sekolah kekurangan guru. Belum lagi fasilitas sekolah yang tak memadai. Ia harus mengajar mulai pukul 06.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB.

Abdul Aziz menceritakan, rasa lelahnya berjalan kaki sejauh 7 kilometer sirna ketika melihat senyuman murid-muridnya. Hal itu pula yang membuatnya lebih semangat mengabdikan diri sebagai guru bantu meskipun tanpa dibayar sepeserpun.

"Mereka adalah semangat saya untuk datang mengajar ke sekolah tersebut. Lelah kaki ini berjalan terobati dengan melihat senyum ikhlas mereka saat saya masuk kelas," ucapnya.

Sementara itu, Andika (10) murid kelas IV mengaku senang diajar oleh TNI. Guru dadakan itu lebih banyak mengajak bermain sambil belajar.

"Kadangkala tegas juga tetapi lebih banyak senyumnya," tuturnya.

Agus Hambali, Kepala SDN 21 Desa Sungai Pisau mengaku sangat terbantu oleh adanya pengajar dari TNI ini. Selama ini kegiatan Pramuka dan olahraga kurang maksimal, menjadi lebih optimal setelah diajarkan oleh Abdul Aziz yang merupakan anggota Pamtas.

"Jika salah satu guru berhalangan masuk maka guru yang ada akan rangkap mengajar. Sejak ada TNI mengajar tidak ada lagi guru yang rangkap kelas," ujar Agus.

Menurutnya, Sekolah Dasar Negeri 21 yang dipimpinya itu hanya memiliki tiga guru PNS termasuk kepala sekolah ditambah empat guru honorer. Kekurangan guru sudah kerap disampaikan kepada dinas pendidikan setempat namun sampai saat ini belum juga ada upaya penambahan. Beruntung ada TNI yang bersedia mengajar meskipun tidak dibayar sama sekali.

Ditemui terpisah, Wadan Pamtas Yonif 502/Ujwala Yudha, Mayor Inf La Ode Idrus mengaku prihatin melihat kondisi sekolah di pedalaman, ditambah banyaknya sekolah yang kekurangan guru. Untuk di Senaning Ketungau Hulu ada dua SDN yakni di SDN 1 Senaning Ketungau Hulu dan SDN 21 Desa Sungai Pisau Kecamatan Senaning.

“Dua anggota yang mengajar itu saya bebaskan dari tugas kegiatan patroli maupun piket, karena mereka difokuskan untuk membantu mengajar mulai dari Senin hingga Sabtu,” jelas La Ode Idrus.

(sus)
Live Streaming
Logo