Image

Mahasiswa Unsil Berantas Kesenjangan Teknologi Informasi

Ilustrasi (Foto: corbis.com)

Ilustrasi (Foto: corbis.com)

TASIKMALAYA - Masih minimnya sentuhan teknologi dan informatika di masyarakat Desa Cikawung Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya, menginisiasi mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata untuk memberantas buta teknologi informasi (TI).

Menurut salah satu mahasiswa yang juga menjadi Koordinator Desa, Lutfi Abdul Rozak, perkembangan TI yang makin pesat harus juga bisa dimanfaatkan warga. “Kita tidak ingin ada kesenjangan, sementara di kota begitu melek, tapi di daerah ini masih sangat minim. Semuanya harus bisa merasakan pemanfaataan teknologi ini,” ujar anggota kelompok KKN 56 ini, seperti mengutip Kabar Priangan, Jumat (13/1/2017).

Mulai dari anak-anak SD, aparat desa, hingga warga mendapatkan pelatihan yang digelar terbagi-bagi. Misalnya, untuk aparat desa di hari Rabu, Kamis dan Minggu. Sedangkan siswa SD ketika roadshow ke sekolah. Dan warga, khusus diberikan privat setiap sore. “Penekanan kita di sini bukan semata akses internet, tapi lebih kepada pemanfaataan komputer untuk membantu aktivitas. Kita juga membuat aplikasi pengelola uang untuk desa, karena kita lihat masih serba manual,” katanya.

Selain itu, mereka mencoba melahirkan kader-kader penggiat TI. “Di sini itu yang sudah bisa menggunakan komputer baru sekitar 20 orang se-Desa, sisanya hanya kenal, tapi tidak bisa mengoperasikan,” ucap mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika ini.

Kontribusi mahasiswa pun tak hanya sampai di sana saja, mereka rencananya akan membuat data base penduduk Desa Cikawung juga peta dusun, untuk mempermudah dan lebih mengenalkan desa tersebut kepada khalayak luas.

“Permasalahan yang ada di masyarakat, memang terus coba kita gali dan berikan solusinya. Seperti data base desa yang masih ditulis tangan dalam buku, kita kira sangat tidak efektif, karena akan sulit untuk mencari dan memperbaharui. Sehingga dengan kita setting dalam aplikasi, bisa lebih efisien. Begitu juga peta desa yang sampai hari ini belum ada,” ujarnya.

Pihaknya berharap, keberadaan selama 35 hari di Desa tersebut dapat memberikan manfaat-manfaat untuk kemajuan desa. Salah satu juga yang mereka dorong, yakni keberlanjutan pendidikan di tingkat masyarakat.

(ran)
Live Streaming
Logo
breaking news x