facebook pixel

LCGC Bakal Boleh Jadi Taksi Online, Peminat LMPV Mungkin Berkurang

Jika mobil LCGC diizinkan menjadi taksi online maka akan mengubah komposisi penjualan mobil (Foto: dok.Okezone)

Jika mobil LCGC diizinkan menjadi taksi online maka akan mengubah komposisi penjualan mobil (Foto: dok.Okezone)

JAKARTA - Saat ini banyak pemilik mobil low cost green car (LCGC) yang dimanfaatkan menjadi taksi online. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan merevisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Umum Tidak Dalam Trayek Jenis Angkutan Sewa atau Taksi dalam Jaringan (daring/online).

Dengan revisi ini, maka kendaraan low cost green car (LCGC) dengan mesin di bawah 1.300 cc boleh dijadikan taksi online.

Marketing and Aftersales Service Director PT HPM di Jakarta Jonfis Fandy mengatakan, regulasi baru ini berpotensi membuat komposisi penjualan mobil berubah.

"Ke depannya, kalau memang diubah peraturannya dan diizinkan LCGC jadi taksi online, otomatis komposisinya akan berubah lagi," tutur Jonfis di Jakarta.

Ia menambahkan, konsumen yang awalnya ingin membeli mobil low multi purpose vehicle (LMPV) sebagai kendaraan pribadi dan sekaligus jadi taksi online, bisa berubah pikiran dengan memilih model LCGC yang harganya lebih murah.

"Kalau nanti misalnya (regulasi) sudah keluar, yang tadinya (mau beli) LMPV pasti akan turun ke LCGC. Nah ini akan kami pelajari dan update lagi," pungkasnya.

Saat ini HPM memasarkan mobil LCGC Brio Satya dengan kapasitas lima penumpang. Sementara pemain lain yakni Datsun sudah memiliki LCGC dengan kapasitas hingga tujuh penumpang, GO+ Panca.

Toyota dan Daihatsu ikut meramaikan segmen ini mulai pertengahan 2016 dengan meluncurkan Calya dan Sigra. Mobil LCGC 7 seater dibanderol di bawah Rp150 juta, sementara LMPV yang diisi oleh Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, serta Nissan Livina di kisaran Rp200 juta.

(ton)