nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pudarnya Filosofi Gapura di Yogyakarta

Markus Yuwono, Jurnalis · Rabu 01 Februari 2017 21:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 02 01 510 1606880

YOGYAKARTA - Beberapa waktu lalu ketika masuk wilayah Yogyakarta, akan melihat beberapa icon yang menandakan jika memasuki wilayah kraton Ngayogyokarto Hadingrat. Salah satu icon yakni gapura lar badak. Namun saat ini dibeberapa lokasi seperti di Gunungkidul, gapura tersebut sebagian besar sudah diubah menjadi lebih modern dan praktis. 

Gapura lar badak, dibangun di perbatasan desa, dusun atau masuk ke gang. Untuk tugu perbatasan kabupaten biasanya bentuknya paling besar, dan mengecil seiring wilayahnya. Setiap bulan Agustus menjelang puncak hari kemerdekaan, biasanya ditulis tanggal 17 dan bulan serta angka tahun. Disana sebagian juga tertulis nama wilayah tersebut.

Namun dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai dirubah ke bentuk yang kekinian dengan model mirip rumah arsitektur asing. Hal ini membuat keprihatinan kalangan. Padahal dengan sebutan daerah Istimewa, seharusnya Yogyakarta bisa mempertahankan kearifan lokal. 

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, jika  gapura lar badak mulai dibangun sekitar medio 1982, yang awalnya sesuai dengan perintah kraton Ngayogyokarto. 

Gunungkidul misalnya, pada tahun 1987 diadakan lomba gapuro lar badak oleh pemerintah saat itu. Lalu diperintahkan oleh bupati saat itu Subekti Sunarto, untuk membuat gapura model lar badak diseluruh wilayah. Gapura lar badak dibangun secara swadaya masyarakat. "Lar badak merupakan 'paring dalem' (perintah) dari kraton," katanya saat berbincang, Rabu (1/2/2017).

Dengan filosofi gapura lar badak, salah satunya ngayomi dan ngayemi (melindungi dan rasa tenang) kepada masyarakat yang membangunnya. Mulai dari itu, setiap penjuru wilayah DIY memiliki ciri khas gapura lar badak.

"Dulu saat masuk wilayah DIY pasti sudah memiliki ciri khas, kalau sekarang sudah tidak ada," bebernya. 

Hilangnya gapura lar badak mulai dilakukan sejak adanya lomba desa yang digelar oleh pemkab. Mereka mengganti dengan tugu yang lebih mudah dan saat ini dijual di toko bangunan.

"Tidak ada peraturan yang mengharuskan gapura lar badak, sehingga mereka mengganti sesuai dengan model saat ini. Sekarang masuk wilayah DIY tidak ada lagi ciri khas, tidak hanya disini tetapi didaerah lain pun sama," tuturnya.

Menurut dia, bangunan lar badak memang membutuhkan lahan agak luas, dan biaya agak lebih mahal. Bangunan dengan puncaknya terdapat mahkota kuncup melati ini saat ini seharusnya mulai dilestarikan.

"Masyarakat cendrung mencari mudahnya saja, sehingga gapura lar badak sudah mulai hilang," ulasnya. 

Sementara Kepala desa Getas Pamuji mengatakan sudah tidak ada lagi gapura lar badak didesanya. Hampir semuanya dibangun menggunakan model terbaru mirip bangunan mandarin.

"Hampir semua diwilayah desa Getas sudah tidak ada lagi gapura lar badak.  Bahkan pintu masuk desa kami sudah diganti," ucapnya.

Ia mengatakan, penggantian ini karena tidak ada aturan yang pasti mengenai pembangunan gapura, sehingga masyarakat membangun sesuai dengan keinginan dan perkembangan jaman. "Tidak ada aturan yang mengharuskan gapura dibangun konsep lar badak," sambungnya.

 

Pemerintah Akan Mulai Merubah

Kepala Bidang Adat Seni Dan Tradisi Dinas Kebudayaan, Ristu Raharja menyampaikan, masyarakat mengganti model gapura lar badak dengan yang lebih modern karena ketidaktahuan mengenai bangunan yang seharusnya tetap dirawat modelnya.

"Masyarakat sekarang mengganti model karena ketidak tahuan mereka," beber Ristu.

Kedepan pihaknya akan mensosialisasikan terkait pelestarian bangunan kepada masyarakat. Meski diakuinya untuk mengganti model yang sudah ada cukup sulit. "Harus disosialisasikan secara pelan-pelan, karena memang sudah dibangun oleh masyarakat,"katanya

Selain itu, lanjut dia, pihaknya menargetkan seluruh desa di Gunungkidul akan menjadi desa budaya. Adpaun syarat untuk menjadi desa budaya adalah melestarikan kesenaian dan permainan; Bahasa dan aksara; kerajinan kuliner lokal; tradisi dan struktur bangunan. 

Saat ini dari 144 desa, baru ada 15 desa budaya dan tahun ini dipersiapkan ada 14 desa rintisan budaya. "Gapura lar badak masuk didalamnya yakni struktur bangunan, sehingga kedepan, akan kembali ke model lar badak," terangnya.

Ristu mengatakan, jika nantinya sudah masuk desa budaya pembangunan gapura bisa menggunakan dana keistimewaan. "bisa juga menggunakan dana keistimweaan. Nantinya diharapkan pembangunan gapura lar badak kembali menjadi ciri khas," pungkasnya. (sym)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini