nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Militer AS Tidak Perlu Beraksi Secara Dramatis di LCS

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Minggu 05 Februari 2017 05:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 05 18 1609794 militer-as-tidak-perlu-beraksi-secara-dramatis-di-lcs-YlaHMKSH0x.jpg Menteri Pertahanan AS James Mattis (Foto: Toru Hanai/Reuters)

TOKYO – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis mengatakan militer Negeri Paman Sam tidak perlu melakukan aksi dramatis di Laut China Selatan (LCS). Perilaku China yang pongah di LCS tidak perlu dengan gegabah dibalas meski menghancurkan kepentingan negara-negara di kawasan.

“Untuk saat ini, kami tidak melihat perlunya aksi dramatis militer sama sekali. Diplomasi harus menjadi fokus untuk isu Laut China Selatan,” tutur pria berjuluk ‘Si Anjing Gila’ itu dalam konferensi pers di Tokyo, Jepang, sebagaimana dilaporkan Reuters, Minggu (5/2/2017).

Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dalam sidang dengar pendapat di Senat AS beberapa waktu lalu menuturkan, China seharusnya tidak diizinkan mengakses pulau-pulau artifisial mereka di LCS. Gedung Putih juga berjanji untuk mempertahankan wilayah internasional di perairan strategis tersebut.

Para pengamat menilai perkataan Tillerson serta Gedung Putih mengindikasikan kemungkinan aksi militer dari AS atau pemberlakuan blokade kelautan. Aksi tersebut berisiko memunculkan konfrontasi langsung dengan China. James Mattis mengatakan aksi militer semacam itu tidak sedang dipertimbangkan sebagai opsi.

“Apa yang harus kita lakukan adalah menyelesaikan dengan berbagai upaya, upaya-upaya diplomatik, untuk mencoba menyelesaikan ini dengan benar, menjaga jalur komunikasi terbuka. Tentu saja sikap militer kita harus menjadi salah satu yang memperkuat diplomat kita dalam isu ini. Tetapi, tidak perlu manuver militer atau semacamnya saat ini, karena itu adalah sesuatu yang harus dipecahkan oleh para diplomat,” ucap Mattis.

Sebagaimana diberitakan, China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan berdasarkan nine dashed-lines (sembilan garis batas putus-putus). Klaim tersebut tumpang tindih dengan Taiwan, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam. Wilayah tersebut diketahui sangat strategis untuk jalur perdagangan, perikanan, serta menyimpan cadangan minyak bumi dan gas yang cukup besar.

“China telah merobek kepentingan negara-negara di kawasan tersebut. Mereka tampaknya mencoba untuk memveto atas kondisi diplomatik, keamanan, dan ekonomi dari negara-negara tetangganya,” pungkas Purnawirawan Jenderal AS itu.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini