5 Hal yang Harus Diperhatikan dari Pertemuan Trump-Abe

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 10 Februari 2017 10:06 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 10 18 1614525 5-hal-yang-harus-diperhatikan-dari-pertemuan-trump-abe-mNff21dEeT.jpg Presiden AS terpilih Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di New York pada November 2016 (Foto: Reuters)

WASHINGTON – Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe baru saja menjejakkan kakinya bersama sang istri Akie di Pangkalan Militer Andrews, Maryland, Amerika Serikat (AS). Politikus Partai Liberal Demokratik (LDP) itu tiba pada Kamis 9 Februari 2017 malam waktu setempat.

Diwartakan Reuters, PM Shinzo Abe langsung bertolak menuju Gedung Putih di Washington untuk bertemu dengan Presiden AS Donald John Trump. Setelah bertemu di Ibu Kota Negeri Paman Sam itu, keduanya akan menuju Palm Beach, Florida untuk bermalam di Resor Mar-a-Lago milik sang presiden AS.

Kunjungan kali ini adalah tatap muka pertama antara Abe dan Trump sejak inagurasi sang presiden terpilih pada 20 Januari 2017. Keduanya juga sempat bertemu dan berbincang hangat di Trump Tower, New York setelah pengusaha properti itu memenangi pemilihan presiden (pilpres) November 2016.

Berikut lima hal yang wajib diperhatikan dari pertemuan antara Donald Trump dengan Shinzo Abe, seperti dimuat Telegraph, Jumat (10/2/2017):

1. Pengembangan nuklir

Jepang nampaknya enggan untuk memiliki senjata nuklir. Negeri Matahari Terbit masih trauma akibat bom nuklir yang dijatuhkan ke Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Ratusan ribu warga Jepang meninggal dunia dalam pengeboman yang dilakukan AS untuk membalas aksi Jepang di Pearl Harbour, Hawaii.

Donald Trump pernah menyatakan dukungannya agar Jepang mengembangkan senjata nuklir demi membantu mempertahankan keamanan kawasan Asia Pasifik dari ancaman Korea Utara (Korut). Namun, pejabat pemerintahan Jepang menyatakan negaranya tidak mungkin memiliki senjata nuklir karena pernah menjadi korban keganasannya di masa lalu.

2. Anggaran pertahanan AS-Jepang

Negeri Sakura saat ini membayar 70% dari biaya penempatan tentara AS di Kepulauan Okinawa dan beberapa pangkalan militer. Selama masa kampanye, Donald Trump pernah menyebut Jepang tidak membayar bagiannya dengan adil. Pria berusia 70 tahun itu bahkan mengusulkan agar Tokyo membayar 100% biaya penempatan tersebut.

Penempatan tersebut adalah bagian dari kesepakatan kedua negara untuk mengakhiri Perang Dunia II. Pejabat pemerintahan Jepang mengaku negaranya sudah berkorban dan berkontribusi banyak bagi penempatan tentara AS. Namun, masih ada ruang untuk didiskusikan bersama mengenai alokasi anggaran dana kerjasama pertahanan tersebut.

3. Bersatu padu hadapi ekspansi China

Peningkatan kehadiran militer China di Laut China Selatan (LCS) memicu kekhawatiran dari Jepang bahwa tetangganya itu tengah melakukan invasi berjenjang di kawasan. Kedua negara juga sedang terlibat sengketa Kepulauan Senkaku atau Diaoyu yang diklaim China bagian dari wilayahnya meski nyatanya berada di bawah kendali Jepang.

Pengamat hubungan AS-Jepang dari Sophia University, Profesor Kazuhiro Maeshima, menyatakan kemungkinan Trump akan berharap Jepang memberikan suatu imbalan atas dukungan terhadap sengketa Kepulauan Senkaku. Juru bicara Pasukan Pertahanan Diri Jepang sendiri mengatakan pihaknya sedang menjaga stabilitas dan perdamaian dengan China.

4. Lapangan kerja bagi warga AS

Staf PM Shinzo Abe tengah bekerja keras menerbitkan semacam paket kebijakan untuk menciptakan 700 ribu lapangan kerja bagi warga AS. Paket kebijakan tersebut akan dipresentasikan pada pertemuan Trump dan Abe di Washington.

Patut dinantikan respons Trump terhadap paket kebijakan tersebut yang sejalan dengan janji kampanye Trump untuk menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Sebab, paket kebijakan tersebut menawarkan investasi senilai JPY17 triliun (setara Rp1.991 triliun) selama 10 tahun. Jepang juga menawarkan kerjasama pengembangan kereta cepat dalam paket tersebut.

5. Kebijakan satu China

Presiden Donald Trump pernah membuat kehebohan di Beijing dengan mengeluarkan pernyataan untuk menegosiasikan kembali Kebijakan Satu China yang berlaku sejak dekade 1970. Pernyataan dikeluarkan setelah dirinya menerima ucapan selamat dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Namun, Shinzo Abe ragu Trump benar-benar serius terhadap pernyataan tersebut. Pernyataan ahli hubungan Jepang-China dari University of Tokyo, Profesor Akio Takahara, menguatkan keraguan tersebut. Ia yakin Trump tidak serius dengan ucapannya karena berencana menggunakan Taiwan sebagai daya tawar dalam kesepakatan perdagangan dengan China.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini