nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RI Harus Tetap Netral dalam Konflik Laut China Selatan

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Senin 13 Februari 2017 20:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 13 18 1617384 ri-harus-tetap-netral-dalam-konflik-laut-china-selatan-kI0kK13VDC.jpeg Ketua Institut Demokrasi dan Hak Asasi Manusia The Habibie Center, Desi Fortuna Anwar (Foto: Rufki Ade Vinanda/Okezone)

JAKARTA - Sengketa wilayah Laut China Selatan (LCS) hingga saat ini masih menjadi perhatian negara-negara di dunia, khususnya ASEAN. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut angkat suara dan mengambil sikap terkait konflik tersebut.

Ketua Institut Demokrasi dan Hak Asasi Manusia The Habibie Center, Prof. Dr. Desi Fortuna Anwar menegaskan Indonesia harus bersikap netral, tetapi tetap memiliki peranan yang penting.

"Indonesia bukan pihak yang berkonflik. Kita tidak memihak karena itu urusan mereka untuk menyelesaikan konflik tersebut. Tapi, Indonesia sangat berkepentingan bahwa perselisihan tersebut tidak boleh pecah menjadi konflik terbuka dan kita harus menjaga stabilitas regional," ujar Dewi dalam dialog "Middle Power Possibilities at a Moment of Turbulence in the Asia-Pacific" di Fairmont Hotel Jakarta, Senin (13/2/2017).

Dewi menambahkan, Indonesia akan senantiasa memainkan peran pro-aktif dalam penyelesaian sengketa Laut China Selatan guna menjaga kestabilan regional.

"Jika konflik terbuka terjadi, maka itu akan berpengaruh pada negara sekitar termasuk Indonesia sebagai negara maritim yang sangat dekat. Maka itu kita memainkan peran yang pro-aktif mengelola konflik Laut China Selatan. Kita memang tidak berprinsip bisa menyelesaikan karena biasanya perselisihan wilayah sulit diselesaikan dan biasanya harus secara bilateral. Mereka boleh beda pendapat tapi jangan lah perbedaan itu menciptakan peperangan," pungkasnya.

Dialog hasil kerjasama The Habibie Center dengan Mission of Canada to ASEAN itu membahas potensi kekuatan negara menengah dalam situasi rawan konflik di kawasan Asia-Pasifik. Selain Dewi, pembicara di acara tersebut adalah Mantan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Marty Natalegawa dan Professor Institute of Asian Research and Liu Institute for Global Issues, Paul Evans.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini