Image

Skandal Suap Rolls-Royce, Emirsyah Satar Jalani Pemeriksaan Perdana

Fahmi Firdaus , Jurnalis · Jum'at, 17 Februari 2017 - 20:37 WIB

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini memeriksa mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Ia datang untuk menjalani pemeriksaan dalam kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus A330-300 untuk Garuda Indonesia dari perusahaan asal Inggris, Rolls-Royce.

(Baca juga: Usai Diperiksa KPK, Emirsyah: Saya Tak Ingin Ganggu Garuda Indonesia).

Juru Bicara KPK, Febri Dianysah mengatakan bahwa Emirsyah diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka kasus pengadaan pesawat dan mesin pesawat di perusahaan yang pernah dipimpinnya tersebut. "Yang bersangkutan diperiksa sebagai tersangka," kata Febri saat dikonfirmasi, Jumat (17/2/2017).

Usai diperiksa, Emirsyah mengungkapkan, pada pemeriksaan perdananya tadi kooperatif dalam memberikan keterangan kepada penyidik agar proses hukumnya berjalan cepat.

"Saya kooperatif, saya telah berikan keterangan apa adanya agar prosesnya lebih cepat," katanya usai diperiksa di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/2/2017).

Selain itu, ia berharap dapat menunjukkan bahwa kasus yang membelitnya itu tidak mengganggu operasional Garuda Indonesia. "Jadi, inilah yang tadi kita inginkan dan tentunya kita harapkan bahwa ini tidak mengganggu Garuda sendiri," pungkasnya.

Sekadar diketahui, penyelidikan kasus tersebut sudah dilakukan sejak 2016. Pada awal tahun ini, KPK baru berhasil mengumpulkan sejumlah bukti untuk menetapkan tersangka dalam kasus suap pengadaan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia Tbk.

Emir diduga menerima sejumlah uang dari Beneficial Owner Connaught Intenational Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo yang juga diduga sebagai perantara pihak Rolls-Royce di Indonesia.

Suap tersebut diberikan dalam bentuk uang dan barang. Dari pengembangan sementara, Emir menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Dan barang yang diterima senilai USD2 juta, yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming