Image

Kisah Heroik Aktivis Bencana Banjir Bukit Duri Evakuasi Bayi Pakai Ember

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Jum'at, 17 Februari 2017 - 14:20 WIB
Daerah Bukit Duri saat kebanjiran (foto: Heru/Okezone) Daerah Bukit Duri saat kebanjiran (foto: Heru/Okezone)

JAKARTA - ‎Bibir Dedi Jamal bergetar, matanya sontak berkaca-kaca kala menceritakan sejumlah proses evakuasi warga saat musibah banjir melanda kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis 16 Februari 2017 dini hari.

Koordinator aktivis bencana ini ‎mengaku kewalahan menghadapi teriakan-teriakan warga yang meminta dievakuasi. Padahal, kata dia, pihaknya hanya memiliki sedikit perahu karet untuk memboyong warga ke lokasi pengungsian yang berada di Aula Garuda, Bukit Duri.

"Kalau perahu karet ada bantuan dari Dinas PU yang sebelumnya kita miliki tapi tidak bisa digunakan karena pecah, kadang-kadang kalau kita menunggu perahu karet dari dinas lain itu agak lama ya. Yang namanya evakuasi itu kan harus cepat," kata Dedi mengawali ceritanya di lokasi pengungsian Aula Garuda, Jumat (17/2/2017).

 Banjir Kiriman Rendam Permukiman Warga di Bukit Duri

Tangisan seorang bayi yang berumur lima bulanan masih terngiang-ngiang di telinganya saat berkisah bagaimana heroiknya para aktivis bencana yang mengevakuasi warga saat datangnya musibah banjir Bukit Duri. Betapa tidak, malam itu kiriman air dari Bendungan Katulampa membuat sungai Ciliwung harus "memuntahkan" debit airnya ke pemukiman warga.

Dedi yang juga koordinator posko bencana banjir Bukit Duri ini mendengar langsung teriakan seorang ibu yang tengah menggendong anaknya. Pasalnya, ketinggian air telah mencapai lebih dari 1 meter atau ‎setinggi bagian dada orang dewasa.

"Tolong anak saya masih bayi," teriak ibu itu ucap Dedi yang menirukannya. Ia langsung sigap dan merespons cepat sumber suara dari sang ibu dan mengamankan ibu beserta sang bayi.

 

Dedi mengaku bingung malam itu. Sebab, perahu karet belum sampai ke lokasi lantaran terlebih dahulu harus mengevakuasi warga lainnya yang terdiri dari lansia, anak-anak hingga perempuan. Tak habis pikir, ia langsung menuju dapur rumah korban banjir Bukit Duri itu guna mengambil ember sebagai tempat untuk mengevaluasi sang bayi malang.

"Kalau kemarin kita evakuasi bayi karena biar cepat kita pakai ember. Lalu kita payungin," kisahnya sembari mata berkaca-kaca karena gerimis mulai bercurah di langit Jakarta malam itu.

Melihat perjuangan Dedi yang tak kenal lelah, sang ibu bayi malang itu pun ‎memiliki inisiatif lainnya untuk segera melerai tangisan anaknya yang kedinginan. Ibu itu pun mengambil sejumlah kain yang ada di lemari bagian atasnya sebagai alat pembungkus sang bayi agar memastikan kehangatan bagi si buah hati.

"Kita payungin bayi umur lima bulanan itu. Sambil menangis kita bungkus pakai kain karena bayi harus cepat dievakuasi biar enggak kena udara dingin," imbuhnya.

 Banjir Kiriman Rendam Permukiman Warga di Bukit Duri

Aktivis bencana yang kewalahan ini akhirnya mendapat bala bantuan dari komunitas Aksi Cepat Tanggap (ACT). Mereka datang dengan membawa sejumlah perahu karet dan segera mengevaluasi warga lainnya yang berada di sepanjang jalur Sungai Ciliwung.

"‎Kami juga biasanya telah memberikan pengumuman apabila air sudah naik. Itu agar warga segera ke tempat pengungsian, tapi karena warganya agak bandel memang ketika air semakin tinggi baru mereka berteriak-teriak minta evakuasi," tutupnya. (wal)

(amr)

  • TAG :

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming