Image

Bukit Duri, Banjirmu Dulu dan Kini..

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Jum'at, 17 Februari 2017 - 17:32 WIB

JAKARTA - Hingar bingar kontestasi Pilgub DKI Jakarta berbanding terbalik dengan‎ nasib warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Terlebih lagi, ajang pesta demokrasi lima tahunan yang seharusnya berlangsung gegap gempita seolah tak dirasakan warga yang mengalami musibah banjir di aliran Sungai Ciliwung.

Seorang pengungsi yang memilih bertahan bernama‎ Sri Rahayu (54) misalnya, mengaku cemas lantaran masih meluapnya Sungai Ciliwung. Ia pun menepi di musala yang merupakan lokasi pengungsian sementara.

‎Menurut dia, curah hujan yang masih tinggi serta kiriman debit air dari Bendungan Katulampa berpotensi memicu terjadinya banjir kiriman di tempat tinggalnya.

Sri adalah satu dari sekian banyak warga yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Sambil menyiapkan logistik makanan untuk para pengungsi lainnya, ia bercerita bagaimana persahabatan antara warga Bukit Duri dengan bencana banjir yang telah menahun itu.

"Daerah bawah (sungai) kan rendah ya jadi gampang kelelep. Sebenarnya tadi sudah surut, tapi benar aja dirasanin bakal naik lagi, eh benar kan airnya naik lagi," kata Sri saat berbincang dengan Okezone di musala yang menjadi lokasi pegungsian sementara warga RW 1 RT 12 Bukit Duri, Jumat (17/2/2017).

Bagi Sri, dibalik musibah yang terjadi di tempat tinggalnya ibarat persahabatan antara manusia dengan banjir. Menurut dia, banjir ibarat tamu yang datang setiap tahunnya sehingga persoalan banjir mustahil untuk dapat di‎ atasi oleh Pemprov DKI.

Ia bercerita, musibah banjir terparah pernah terjadi  pada 2007 silam. Kala itu, debit air yang menggenangi pemukiman warga mencapai batas atas SMAN 8 Bukit Duri. Dengan tolak ukur itu, ia merasa belum ada perubahan berarti dalam upaya Pemprov DKI mengatasi banjir di daerah tersebut.‎

"Tiap tahun banjir. 2016 enggak begitu tinggi. Terus sekarang (2017) lebih tinggi. 2015 hampir sama lah dengan sekarang. Tapi paling parah kan 2007 sampai atas banget banjirnya. Ini sebenernya biasanya banjir gede gini 5 tahun sekali. Sekarang malah setahun sekali," keluh Sri.

Perempuan yang memiliki tiga anak ini mengaku akan terus memantau setiap kebijakan Pemprov DKI yang ingin menyelesaikan permasalahan banjir di Ibu Kota.  "Mudah-mudahan pengerjaannya (normalisasi Ciliwung) cepat selesai. Padahal kan sudah gusur-gusur ya tapi masih banjir. Nanti selesai proyeknya semoga cepat biar enggak kebanjiran lagi mudah-mudahan ya," ujar Sri.

Sementara warga lainnya, Mulyono (54) menambahkan, ia bersama keluarganya sudah 30 tahun tinggal di Bukit Duri. Ia membeberkan pengalamannya yang tak pernah merasakan banjir saat masih tinggal di tempat tersebut pada tahun 1980-an.

Mulyono mengenang bahwa pada saat itu, masih banyak taman yang menghiasi kawasan Bukit Duri. Nuansa di Bukit Duri amat terkenal dengan kesejukannya lantaran rindangnya pepohonan yang masih tumbuh di sana.

"Di sini itu dulu tahun 80 ke bawah enggak pernah banjir. Dulu Ciliwung masih sangat lebar. Air selalu tertampung ngalir enggak pernah naik ke rumah warga. Nah mulai tahun 85 ke atas, banjir mulai tuh. Mulai naik ke atas sampe Taman Bukit Duri SMAN 8 situ. Sampai sekarang setiap tahun kena terus SMAN 8," kenang Mulyono. (sym)

(wal)

  • TAG :

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming