nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kreatif! Mahasiswa "Panen" Kabut untuk Atasi Kekeringan

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Rabu 22 Februari 2017 09:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 21 65 1624490 kreatif-mahasiswa-panen-kabut-untuk-atasi-kekeringan-DZbsx0bIsj.jpg Foto: Dok. Untag

JAKARTA - Kuliah kerja nyata (KKN) menjadi bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat atas apa yang telah dipelajari di kampus. Untuk itu, sekelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ingin memberikan solusi kepada warga Dusun Kepuh, Desa Bodag, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, yang sering mengalami kekeringan di musim kemarau.

Para mahasiswa tersebut membuat alat pemanen kabut. Teknologi ini dinilai cukup efektif lantaran posisi desa berada di daratan tinggi sehingga memiliki potensi kabut yang cukup tinggi.

"Setelah melakukan survei tempat, di mana pada desa ini sering terjadi krisis air ketika masuk musim kemarau dan adanya potensi alam yang mendukung yaitu kabut akhirnya Divisi Teknologi Tepat Guna (TTG) memutuskan memasukkan pembuatan alat pemanen kabut sebagai salah satu program kami," ujar Ketua Devisi TTG Pacitan 6, Ahmad Arvadillah Akmal, disitat dari laman Untag, Rabu (22/2/2017).

Mahasiswa yang akrab disapa Arva itu menjelaskan, alat ini memanfaatkan tingginya curah kabut yang berada di daerah daratan tinggi. Konsepnya sangat sederhana, yaitu terbentuk dari net atau jaring yang digunakan sebagai penangkat kabut.

"Kemudian di bagian bawah jaring dipasang sebuah pipa untuk mengalirkan titik-titik air yang berasal dari kabut ke dalam sebuah tempat penampungan, sehingga air hasil dari pemanen kabut ini dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari," paparnya.

Para mahasiswa hanya butuh waktu dua hari untuk membuat alat pemanen kabut tersebut. Dia mengatakan, pada hari pertama melakukan survei lokasi untuk menentukan letak titik kabut yang berpotensi. Sedangkan hari kedua eksekusi pembuatan alat tersebut.

"Teknologi ini cukup sederhana dan sangat ekonomis serta ramah lingkungan. Sangat memungkinkan diproduksi masyarakat secara massal. Kami berharap teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekeringan diwilayah Desa Bodag terutama di Dusun Kepuh saat musim kemarau," tukasnya. (ira)

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini