Image

Wah, Kampus Inggris Akui Karya Sembilan Anak Bangsa Ini

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

JAKARTA - Kuliah dan berhasil lulus di kampus-kampus berkelas dunia yang ada di Inggris menjadi kebanggaan alumni asal Indonesia. Hebatnya, tak hanya sekadar lulus, sembilan anak bangsa juga mendapat pengakuan atas prestasi dan karya yang ditorehkannya.

Penghargaan kepada para alumni tersebut diberikan melalui Study UK Alumni Awards 2017. Tak hanya Indonesia, ajang ini juga dihelat di 13 negara lainnya. Jumlah pesertanya bahkan mencapai 1.200 alumni dari seluruh dunia.

"Tahun ini kami menerima kandidat-kandidat yang luar biasa. Semuanya telah terbukti berprestasi di Indonesia setelah kembali dari menempuh studi di Inggris. Banyak yang bekerja di sektor pemerintahan, pengabdian masyarakat dan swasta. Semuanya menunjukkan pencapaian yang cemerlang di bidangnya masing-masing," ucap Direktur British Council di Indonesia, Paul Smith, dalam siaran persnya, Jumat (24/2/2017).

Sembilan finalis asal Indonesia itu sendiri terbagi dalam tiga kategori. Untuk ketegori pencapaian profesional terdiri atas Ritmaleni (University of Bristol), Tahir Musa Lutfi Yazid (University of Warwick), dan Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo (University of Glasgow).

Selanjutnya kategori kewirausahaan, yakni Ignasisus Ryan Hasim (University of Bath), Oki Earlivan Sampurno (Royal Holloway, University of London), dan Samiaji Adisasmito (Aston University). Sedangkan yang masuk pada kategori dampak sosial adalah Herlin Putri Indah Destari (University of Warwick), Ricky Gunawan (University of Essex), dan Roichatul Aswidah (University of Essex).

Para lulusan tersebut langsung dinominasikan oleh universitas Inggris tempat mereka menempuh studi. Salah satu nominator kategori dampak sosial, Herlin Putri Indah Destari merupakan seorang pengajar di Universitas Indonesia (UI). Capaian yang ditorehkan saat ini, yaitu mendirikan English Art Lab, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan memberdayakan anak-anak dan remaja melalui pendidikan kreatif. Herlin menyelenggarakan English Without Border, suatu program sosial untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak dan remaja dari kalangan kurang mampu.

"Belajar di Warwick memberikan kesempatan untuk mengalami berbagai hal baru. Sekembalinya dari Inggris, saya mengombinasikan apa yang saya pelajari di kampus dan pengalaman menjadi relawan untuk mengembangkan institusi belajar komunitas dengan pendekatan kreatifitas bagi anak-anak dan remaja," tutur Herlin.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x