nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TOP FILES: Berwisata ke Keraton Yogya, Pengunjung Dilarang Masuk Bangsal Ini!

Randy Wirayudha, Jurnalis · Senin 13 Maret 2017 07:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 10 510 1639750 top-files-berwisata-ke-keraton-yogya-pengunjung-dilarang-masuk-bangsal-ini-we30C47ZKr.JPG Bangsal Kencana di kompleks Keraton Yogyakarta (Foto: Wikipedia)

KERATON Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi salah satu situs destinasi wisata terpopuler jika melancong ke Kota Yogyakarta. Hampir semua wilayah kompleks keraton masih bisa diakses dan dilihat pengunjung umum, kecuali satu tempat ini.

Tempat yang dimaksud adalah Bangsal Kencana. Disebutkan, selain Sentono Dalem dan Sri Sultan sendiri, ruangan ini tak boleh dimasuki atau dilihat masyarakat umum.

Bangsal Kencono ini seperti yang pernah dibahas dalam artikel sebelumnya di topik sejarah dan filosofi Malioboro, merupakan “tempat akhir” perjalanan manusia secara spiritual. Perjalanan dalam konsep “Sangkan Paraning Dumadi”.

Diuraikan penggiat sejarah Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi, perjalanan hidup manusia dalam filosofi Jawa diibaratkan bermula dari Panggung Krapyak. Di sana dideskripsikan manusia dari fase anak kecil tumbuh menuju kedewasaan.

Lalu fase dewasa untuk mencapai keutamaan hidup yang digambarkan satu garis lurus antara Tugu Yogya (dulu Tugu Golong Gilig)-Stasiun Tugu Yogyakarta. Kemudian garis lurus itu diteruskan Jalan Malioboro.

“Jalan Malioboro itu filosofinya dari Wali dan Obor. Wali itu Wali Songo, Obor itu bara atau cahaya api. Manusia yang hendak menuju keutamaan, harus meneladani Wali Songo,” terang Erwin kepada Okezone.

Kalau sudah belajar dari para wali, perjalanan manusia di jalan yang lurus disambungkan dengan Jalan Margo Mulyo. Fase perjalanan di mana manusia sudah mulia dan siap mencapai Tuhan Yang Maha Kuasa yang kemudian diteruskan ke Jalan Pangurakan.

“Ini (Jalan Pangurakan) simbolnya manusia yang sudah mencapai kemuliaan, tidak boleh lagi urak-urakan atau sembarangan karena sudah siap mencapai Tuhan,” imbuh aktivis sejarah yang juga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Kalau sudah bisa meninggalkan semua gaya hidup yang urak-urakan, barulah manusia siap menghadapi kematian. Titiknya ada di Alun-Alun Utara Keraton Yogya di ujung Jalan Pangurakan.

Alun-alun dari asal kata 'alun' yang diartikan 'manusia akan mengalun seperti ombak'. Terombang-ambing antara dua dunia (kehidupan dan kematian). Tahapan berikutnya berada di dalam bangunan keraton itu sendiri, yakni Bangsal Sri Manganti.

Itu merupakan tempat manusia menanti perhitungan amal baik dan buruk. Lantas dilanjutkan ke Bangsal Raju Mas atau “Timbangan Emas”. Di tempat itulah manusia ditimbang semua amalnya.

“Setelah itu menuju ke Bangsal Kencana, tempat terakhir manusia untuk kekal selamanya di akhirat. Simbolnya di sana itu ada lampu Kiai Wiji yang tak pernah padam sejak masa HB I bertakhta,” sambung Erwin.

“Yang boleh melihat (lampu Kiai Wiji) itu (di Bangsal Kencana) hanya Sentono Dalem dan Sri Sultan sendiri. Lampunya seperti pelita yang menyala dengan minyak kelapa. Sampai sekarang masih menyala dan memang dijaga untuk terus menyala oleh orang keraton,” tuntasnya.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini