Image

Waduh! Proyek Geothermal Dikhawatirkan Memicu keluarnya Gas Beracun di Gunung Lawu

Bramantyo, Jurnalis · Rabu 15 Maret 2017, 18:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 15 512 1643542 waduh-proyek-geothermal-dikhawatirkan-memicu-keluarnya-gas-beracun-di-gunung-lawu-3KZ91h1Hl9.jpg

KARANGANYAR - Salah satu pecinta alam yang berada di basecamp Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur yang juga Ketua Paguyupan Giri Lawu (PGL) Jatmiko Wicaksono menegaskan proyek panas bumi (geothermal) yang akan dilakukan di gunung Lawu akan merusak alam dan habitatnya. 

Kawasan ini juga kaya flora dan fauna yang perlu dijaga kelestariannya. Perlindungan terhadap kawasan Lawu pun menjadi harga mati. Tujuannya agar kelestarian dan stabilitas ekosistem dan keberlanjutan dari fungsi alam tetap terjaga.

"Kelestarian hutan merupakan harga mati. Masyarakat lereng Lawu kehidupannya bergantung pada sumber air lereng Lawu. Selain itu kawasan ini kaya akan flora dan fauna. Kita tidak setuju ada pengeboran di Lawu untuk pengambilan panas buminya,"  jelas pria yang akrab di sapa Miko, saat berbincang dengan Okezone, Rabu (15/3/2017). 

Dampak eskplorasi akan mulai dirasakan kedepannya yang pastinya sangat menyengsarakan masyarakat sekitar lereng Lawu. Pasalnya mega proyek ini pasti akan memotong banyak pohon untuk membuka jalur alat berat untuk masuk ke lokasi. 

"Jika proyek itu terus berjalan maka dampak yang akan di tanggung lebih besar lagi. Harus korbankan berapa banyak pohon untuk akses ke lokasi. Padahal kita bersusah payah untuk melakukan penanaman pohon," lanjut Miko.

Justru yang paling berbahaya, di sekitar Lawu banyak mengandung gas beracun sejenis amoniak berwarna merah jambu yang saat ini sudah jarang terlihat lagi. Namun dikhawatirkan gas beracun yang sering muncul di pos 1 dan 2 jalur pendakian gunung Lawu. 

Keberadaan gas itu lanjut Miko sangat berbahaya jika tercium oleh pendaki. Terlebih lagi jika muncul saat malam hari. Karena gas beracun akan sulit dibedakan dengan kabut karena kondisinya sangat gelap. Dan tingginya satu meter diatas permukaan tanah.

"Dikhawatirkan jika dilakukan pengeboran justru akan memicu kembali keluarnya gas berpat menghilang beberapa tahun terakhir ini," terang Miko.

Senada dengan Miko, relawan Gunung Lawu lainnya, Rifan Feirnandi menyampaikan pemerintah harus bisa mengkaji lebih dalam lagi. Jangan sampai tragedi Lapindo yang sudah melalui kajian mendalam dan tekhnologi modern namun gagal juga. 

"Alam itu tidak bisa didekte oleh manusia. Karena alam punya cara sendiri yang tidak bisa diprediksi dengan ilmu dan tekhnologi. Bahkan dengan tekhnologi termodern sekalipun. Uang seberapa besarpun tidak akan mampu membendung  kerusakan alam," pungkas Rifan.

Diperkirakan lokasi pengeboran panas bumi untuk mencari lokasi yang tepat berada di beberapa titik. Diantaranya barat daya Gunung Lawu yakni Tawangmangu dan Pablengan, Matesih. Selanjutnya ada hutan Jobolarangan, Tlogodringo. (sym)

(fas)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini