Image

Tolak Geothermal, Budayawan Anggap Gunung Lawu Saksi Sejarah Kejayaan Nusantara

Bramantyo, Jurnalis · Minggu, 19 Maret 2017 - 00:40 WIB
Ilustrasi (Dok: Antara) Ilustrasi (Dok: Antara)

KARANGANYAR - Gerakan penolakan mega proyek geothermal di Gunung Lawu, terus dilakukan masyarakat Karanganyar. Bagi mereka, penolakan geothermal di Gunung yang memisahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu harga mati.

Salah satu alasan penolakan keras warga Karanganyar dikarenakan lokasi pengeboran panas bumi berada di wilayah mereka. Terlebih lagi, dalam pemahaman budaya Jawa, Gunung Lawu yang bernama asli Wukir Mahendra yang meletus terakhir kali pada 28 November 1885 memiliki arti yang sangat dalam bagi masyarakat Jawa khususnya.

Gunung Lawu sendiri termasuk dalam kategori gunung tidur. Hal tersebut lantaran di sekitar lereng Lawu masih ada kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfara) ini dalam perspektif budaya dan mistis, telah melahirkan banyak tradisi dan kearifan lokal dalam masyarakat.

"Banyak ritual kultural yang dikait-kaitkan dengan Lawu. Tak heran jika setiap bulan Suro, warga yang masih mengaggungkan budaya dan tradisi Jawa rutin ‘sambang’ gunung Lawu dan itu menjadi ritual rutin yang tidak bisa ditinggalkan," jelas Joko Sunarto, salah satu budayawan dan tokoh masyarakat Ngargoyoso, pada Okezone, Sabtu (18/3/2017).

Selain itu banyak peninggalan budaya yang bisa menguak sejarah masa lampau dan tidak ditemui dalam literarur sejarah saat ini. Diduga, benda-benda bersejarah itu masih ada di seputaran Lawu dan masih terlelap dalam istirahat panjangnya di kehangatan perut Lawu.

Lawu sendiri terang Joko Sunarto menjadi saksi sejarah kejayaan masa lampau. Mulai dari kerajaan Kahuripan dengan rajanya Airlangga, Majapahit di era Brawijaya V, Demak dengan Radeh Patah yang diperkuat dan dibuktikan dengan temuan situs candi di sekitar Lawu. 

"Gunung Lawu itu yang banyak warisan budaya dan penanda kultural yang sangat penting. Khususnya nilai kultural Jawa," lanjut Joko.

Lereng Lawu adalah surga dan aset bagi dunia wisata. Banyak aset wisata religi, alam, dan seni rakyat yang bersemayam di komunitas masyarakat Lawu yang tersebar di seputaran lereng Lawu. Yang menjaga nilai kearifan lokal yang diyakini secara turun-temurun.

"Nilai kearifan lokal budaya setempat itu yang saya bawa saat seminar geothermal Lawu di Kampus UGM Jogyakarta," sambungnya.

Ia mengimbau, seluruh warga Lereng Lawu untuk merefleksikan dari ajaran Tri Dharma milik Pangeran Sambernyawa yakni "handarbeni,ngrungkepi mulatsarira hangrasa wani". Ketinga berarti harus merasa memiliki, berkewajiban untuk membela secara sukarela dan mawas diri dan memiliki keberanian melakukan penolakan. (sym)

(fas)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming