Image

Jarang Terjadi, Korut Akui Kecelakaan Tambang Mematikan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin, 20 Maret 2017 - 21:01 WIB
Ilustrasi. (Foto: Reuters) Ilustrasi. (Foto: Reuters)

PYONGYANG – Media Pemerintah Korea Utara (Korut) memberitakan kematian enam penambang yang tewas dalam kecelakaan di tambang besi Unryul yang terjadi pada Januari 2017. Pemberitaan ini merupakan kejadian langka di mana Pyongyang mengakui adanya kecelakaan mematikan di negara yang penuh dengan kerahasiaan itu.

Pada 9 Januari 2017, tujuh penambang terjebak di tambang bijih besi Unryul di barat daya Korut. Media Pemerintah Korut, Rodong Sinmun menyebutkan, enam dari tujuh penambang tersebut tewas dan hanya satu yang berhasil selamat.

Diberitakan, kejadian itu adalah yang terburuk yang terjadi di Hwanghae selatan sejak provinsi itu dibentuk. Demikian dilaporkan CBS, Senin (20/3/2017).

Media Korut dikontrol ketat dan jarang sekali melaporkan berita yang dipandang negatif dan sebuah pengakuan mengenai kesalahan yang dilakukan pemerintah adalah pemberitaan yang tidak biasa. Banyak pengamat masalah Korut yang terkejut saat media pemerintah Korut pada 2014 melaporkan permintaan maaf pejabat pemerintah atas robohnya gedung apartemen yang sedang di bangun di Ibu Kota Pyongyang.

Insiden runtuhnya tambang Unryul sendiri sama sekali belum pernah diberitakan oleh kelompok-kelompok pengamat sebelum munculnya laporan dari media pemerintah Korut. Hal ini membuktikan sulitnya mendapat informasi dari negara terisolasi itu. Bahkan terkadang informasi yang didapatkan simpang siur dan terbukti tidak benar.

Rodong Sinmun mengatakan, robohnya tambang itu terjadi saat para pekerja melakukan upaya besar-besaran untuk memenuhi perintah Kim Jong-un untuk menambang lebih banyak bijih besi guna mendukung rencana ekonomi lima tahun pemerintah. Kejadian itu, tulis harian yang dikelola Partai Pekerja Korut tersebut, terjadi beberapa hari sebelum peringatan kunjungan ayah dan kakek Kim Jong-un ke tambang itu bertahun-tahun lalu.

Disebutkan, kata-kata terakhir yang diucapkan para penambang yang tewas kepada keluarga mereka adalah mengenai peringatan yang jatuh pada 23 Januari itu, seperti keinginan mereka menyelesaikan rencana produksi sebelum hari itu tiba.

“Keenam penambang meninggalkan gema hidup mereka yang murni sebagai warga kelas pekerja,” demikian ditulis Rodong Sinmun.

(war)

  • TAG :

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming