Image

Begini Kronologi Tembak Mati Bandar Sabu di Pontianak

Ade Putra, Jurnalis · Selasa, 21 Maret 2017 - 20:44 WIB
Ilustrasi Ilustrasi

PONTIANAK - Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap empat orang jaringan narkoba jenis sabu seberat sebelas kilogram di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin, 20 Maret 2017, sekira pukul 23.30 WIB.

Keempat tersangka adalah Gusnadi alias Cul, Wahyudi alias Tedung, Gusdiman alias Godeng dan Liem We Po alias Apoy. Apoy tewas setelah ditembak petugas karena berusaha kabur ketika hendak ditangkap di lokasi penangkapan, tepatnya di depan Pura, Jalan Adisucipto. Tembakan petugas BNN mengenai dada serta tangan kirinya.

"Yang jelas dia (Apoy) yang akan mengendalikan, menerima dan di juga akan membagi-bagikan (sabu)," kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari saat memberikan keterangan pers di BNNP Kalbar di Jalan Parit H Husein, Pontianak Selatan, Selasa (21/3/2017).

Arman menjelaskan, pengungkapan ini berawal dari informasi awal yang diterima petugas BNN terkait adanya upaya penyelundupan sabu dari Malaysia. Tim gabungan berjumlah lebih dari 20 personil BNN dengan BNN Provinsi Kalbar yang dipimpin oleh AKBP Bugi, anggota BNN Pusat, langsung melakukan penyelidikan. Dan keempat tersangka ini memang DPO BNN.

Gerak-gerik Apoy sudah diintai. Saat itu, warga Pontianak Selatan ini tengah menunggu Godeng dan Tedung, warga Kecamatan Sekayam, Sanggau, yang bermobil membawa pesanan sebelas kilogram sabu dari Sarawak, Malaysia.

"Kedua kurir ini berangkat ke Malaysia mengambil barang haram tersebut. Kemudian dibawa ke Indonesia melalui PLBN Entikong. Setelah lolos itu, sabu yang disimpan dinding mobil, langsung dipindahkan ke dalam koper dan menyerahkan kepada Apoy di Pontianak," ujar Arman.

Penyerahan sabu ini kemudian berlangsung di depan terminal Soedarso, Jalan Adi Sucipto. Oleh Apoy, barang haram yang dikemas menjadi sebelas paket ini disimpan dalam jok motor Honda Supra KB 6364 HI.

Tim gabungan kemudian dengan cepat menggerebek keempat tersangka. Godeng dan Tedung tak berkutik, namun Apoy malah melarikan diri menggunakan sepeda motornya.

Tembakan peringatan pun diberikan dari petugas. Namun, Apoy malah menambah kecepatannya. Dengan sigap petugas menembak Apoy. Dan akhirnya ia terjatuh tepat depan Pura yang terletak di Jalan Adisucipto. "Ini merupakan tindakan keras dan tegas dari BNN," kata Arman.

Dikatakannya, anggota BNN sudah dibekali dan dilengkapi senjata api. Semaksimal mungkin senjata itu digunakan untuk melumpuhkan dan menghentikan pelaku. "Jika perlu melenyapkan para pelaku," tegasnya.

Lanjutnya menjelaskan, Apoy yang mendapatkan tembakan dan dikira masih bisa bertahan, langsung dilarikan ke Dokkes Polda Kalbar. Sesampai di Dokkes Polda Kalbar petugas medis menyatakan Apoy sudah dalam keadaan tak bernyawa. Jenazahnya kemudian dibersihkan dan dititipkan di RSUD dr Soedarso Pontianak.

Beruntung, upaya penyelundupan ini berhasil digagalkan. Karena, lanjutnya, mungkin sabu ini bukan hanya untuk disebarluaskan di Kalimantan Barat saja. Bisa jadi kirim ke Jakarta dan daerah lain juga. "Karena narkoba ini jaringan. Artinya jaringan itu tidak hanya satu jalur," terangnya.

Arman menegaskan, sebelas kilogram sabu itu tak bernilai. "Nilainya tidak ada. Ini racun. Yang ada itu korbannya meninggal. Tinggal kita kalkulasikan saja, segram dipakai lima orang, sebelas kilo berapa orang," paparnya.

Saat ini, kata Arman, kasus yang besar ini tengah dikembangkan untuk mengungkap jaringan internasional lainnya. Sejumlah barang bukti berupa kendaraan dan beberapa ponsel sebagai sarana serta sabu tersebut masih diamankan di BNNP Kalbar.

Mereka dijerat Pasal 112, 114 dan 121 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman paling ringan lima tahun penjara dan paling berat hukuman mati. Selain itu, jika kejahatan ini mengarah pada upaya memperkaya diri maka BNN juga akan menjerat pelaku dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Keterangan sementara para kurir ini, mereka sudah sering berhasil menyelundupkan narkoba ke Indonesia melalui perbatasan Kalbar-Malaysia. Sekali berhasil, mereka diupah sebesar Rp5 juta.

Sejauh ini, kata Arman, melihat leluasanya aktivitas penyelundupan Apoy CS ini, belum ditemukan ada keterlibatan aparat otoritas Perbatasan. "Tapi kalau memang ada indikasi, maka akan kita lakukan pendalaman dan penyelidikan. Kalau betul ada terlibat maka itu kita akan tindak dengan tegas juga," tegasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming