Ketika Warga Mandi Limbah di Hari Air Sedunia

Zen Arivin, Okezone · Rabu 22 Maret 2017 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 22 519 1649054 ketika-warga-mandi-limbah-di-hari-air-sedunia-0ZtQF1KCxN.jpg Warga menggelar aksi saat hari air sedunia. (Zen A/Okezone)

MOJOKERTO - Ratusan kaki berdiri tepat di depan gapura mirip gerbang zaman Kerajaan Majapahit, siang tadi, Rabu (22/3/2017). Jemari yang mayoritas telah keriput itu, tampak menenteng gayung dan ember. Sedangkan di leher dan pundak mereka, selembar handuk yang terlihat melingkar.

Peserta aksi merasa, hak atas air bersih tampaknya belum juga bisa dinikmati seutuhnya oleh warga Desa Lakardowo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Nyatanya, warga yang mayoritas petani itu, meski membayar setiap tetes air yang diteguknya menggunakan rupiah. Tak heran, pada momentum hari air dunia ini, mereka meminta hak atas air bagi kehidupan mereka.

"Kami mau menumpang mandi di kantor Pemkab Mojokerto. Karena, air sumur di tempat kami sudah tak lagi bisa digunakan. Kami takut gatal-gatal," kata Rini, (40), salah seorang warga kepada Okezone, Rabu (23/3/2017).

Sama halnya dengan Rini, beberapa perempuan lain juga memiliki maksud yang sama. Meski tanpa seizin sang pemangku kekuasan di Kabupaten Mojokerto, mereka lantas mengisi ember yang ditentengnya itu dengan air berwarna merah. Menggunakan air limbah itu, warga yang didominasi kaum ibu-ibu itu memandikan bayi-bayi mereka.

"Ini merupakan gambaran yang dialami warga Lakardowo. Setiap hari, mereka mandi menggunakan air yang tercemar limbah. Maka itu, di hari air sedunia ini, kami menuntut hak kami atas air bersih kepada pemerintah Mojokerto," sambung Heru Siswoyo, pemuda Desa Lakardowo.



Heru lantas bertutur. Semenjak tahun 2016 silam, hak atas air bersih warga Desa Lakardowo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, sudah dirampas. Warga dipaksa untuk mengkonsumsi air tanah yang sudah terkontaminasi dengan limbah berbahaya.

"Sebanyak 432 warga terkena penyakit dermatitis atau iritasi kulit sejak November 2016 hingga Januari 2017. Itu karena sumur-sumur mereka sudah tercemar dengan limbah. Yang memperihatinkan lagi, banyak bayi yang mengalami gatal-gala," terangnya.

Buruknya kualitas air sumur warga Desa Lakardowo itu, sejak dua tahun terakhir. Setelah, pabrik pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) milik PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) berdiri di desa tersebut. Ditengara, pencemaran itu terjadi akibat timbunan limbah yang ditanam pihak perusahaan saat pembangunan pabrik dilakukan.

"Maka itu kami menuntut kepada Pemkab Mojokerto untuk menutup pabrik tersebut jika memang benar pencemaran itu berasal dari limbah yang ditimbun perusahaan di lokasi areal pabrik. Kara air bersih merupakan hak bagi kami," paparnya.

Sementara itu, Asisten I Bidang Kesra Pemkab Mojokerto menyatakan akan segera menindaklanjuti tuntutan warga Desa Lakardowo itu. Pemkab akan menerjunkan petugas dari Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk melakukan uji laboratorium terkait kualitas air di sumur-sumur warga.

"Kami juga akan melibatkan warga dalam pengecekan di lapangan nanti. Dengan begitu hasilnya juga transparan. Terkait dengan kesehatan warga, kita sudah berkoordinasi dengan Dinkes untuk melakukan kroscek," tandasnya. (sym)

(fas)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini