Share

LBH Medan dan AJI Medan Desak Oknum TNI Penganiaya Wartawan Segera Ditahan

Erie Prasetyo, Okezone · Kamis 30 Maret 2017 19:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 30 340 1654564 lbh-medan-dan-aji-medan-desak-oknum-tni-penganiaya-wartawan-segera-ditahan-AMeYyb1ZoD.jpg Tindakan kekerasan yang sempat terekam CCTV (Istimewa)

MEDAN - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan dan AJI Medan mendesak agar oknum TNI Angkatan Udara yang menjadi tersangka dugaan penganiayaan wartawan segera ditahan.
Tim Advokasi Pers Sumut dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Aidil Aditya mengatakan, oknum TNI AU  yang menjadi tersangka kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi di Kelurahan Sari Rejo pada Agustus 2016 masih bebas berkeliaran.
Mereka tidak ditahan meski berita acara berkas tersangka sudah dilimpahkan oleh penyidik Polisi Militer Angkatan Udara (POM AU) Lanud Soewondo ke Oditur Militer.
"Kasus sudah terjadi tujuh bulan yang lalu, namun proses penyelesaiannya berjalan sangat lambat. Bahkan dua tersangka yang ditetapkan baru untuk perkara korban atas nama Array Argus, sedangkan empat korban lainnya perkembangan kasusnya tidak jelas," ujar Aidil, Kamis (30/3/2017).
Sedikitnya ada enam wartawan jadi korban kebrutalan prajurit saat meliput demo warga di Sari Rejo. Mereka adalah Andry Safrin (MNC News), Array Argus (Harian Tribun Medan), Teddy Akbari (Harian Sumut Pos), Fajar Siddik (medanbagus.com), dan Prayugo Utomo (menaranews.com), dan Del (matatelinga.com) satu-satunya korban yang mendapat pelecehan.
Kuasa hukum korban telah menanyakan langsung ke Kantor Oditur Militer bagaimana perkembangan perkara penganiayaan wartawan dari POM AU. Berkas memang sudah dilimpahkan, namun pihak Oditur Militer menyatakan bahwa kedua tersangka tidak ditahan.
“Kami mendesak agar kedua tersangka segera ditahan dan berkas perkara segera di Limpahkan ke pengadilan militer untuk disidangkan agar pelapor mendapatkan kepastian hukum, karena tidak mungkin status mereka tersangka selamanya karena proses hukum yang tidak benar," ujar Aidil.
Adapun dua tersangka yang berkasnya telah dilimpahkan POM AU Lanud Soewondo ke Odmil Medan yakni atas nama Kiren Singh dengan berkas nomor : 42/XII/2016/SWO dan Rommel P Sihombing dengan berkas nomor : 43/XII/2016/SWO.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Agoez Perdana, mendesak agar prajurit TNI AU tersangka penganiaya jurnalis di Sari Rejo segera ditahan. AJI mendorong persidangan kasus itu dilaksanakan secara terbuka dan dimasukkan dakwaan pasal pidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Secara terpisah, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu mengatakan, terhitung sejak Februari 2017, ada tiga korban yang menerima perlindungan langsung dari LPSK.
Meliputi perlindungan pemenuhan hak prosedural berupa pendampingan hak informasi kepada perlindung. Dimana bila pelindung menjalani proses pemeriksaan, baik penyidikan dan persidangan di pengadilan akan didampingi LPSK.
“Bila ada informasi yang diterima LPSK terkait perkembangan kasus, juga akan diberi tahu kepada pelindung. Dan juga LPSK memberikan bantuan psikologis bila ada trauma dari korban yang masih diperlukan untuk pemulihan,” terangnya.
Untuk proses pemantauan perkembangan kasus, diakui Edwin bahwa LPSK secara regular akan terus melakukan komunikasi dengan TNI AU.
“Saat ini kita menunggu proses kelanjutan dari penetapan tersangka, dan proses hukum ini harapannya bisa berakhir di pengadilan. Kemudian kasus ini juga bisa memberikan efek jera kepada para pelaku,” jelasnya

MEDAN - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan dan AJI Medan mendesak agar oknum TNI Angkatan Udara (AU) yang menjadi tersangka dugaan penganiayaan wartawan segera ditahan.

Tim Advokasi Pers Sumut dari LBH Medan, Aidil Aditya mengatakan, oknum TNI AU  yang menjadi tersangka kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi di Kelurahan Sari Rejo pada Agustus 2016 masih bebas berkeliaran.

Mereka tidak ditahan meski berita acara berkas tersangka sudah dilimpahkan oleh penyidik Polisi Militer Angkatan Udara (POM AU) Lanud Soewondo ke Oditur Militer.

"Kasus sudah terjadi tujuh bulan yang lalu, namun proses penyelesaiannya berjalan sangat lambat. Bahkan dua tersangka yang ditetapkan baru untuk perkara korban atas nama Array Argus, sedangkan empat korban lainnya perkembangan kasusnya tidak jelas," ujar Aidil, Kamis (30/3/2017).

(Baca : Oknum TNI AU Tersangka Penganiaya Wartawan di Medan Masih Bebas Berkeliaran)

Sedikitnya ada enam wartawan jadi korban kebrutalan prajurit saat meliput demo warga di Sari Rejo. Mereka adalah Andry Safrin (MNC News), Array Argus (Harian Tribun Medan), Teddy Akbari (Harian Sumut Pos), Fajar Siddik (medanbagus.com), dan Prayugo Utomo (menaranews.com), dan Del (matatelinga.com) satu-satunya korban yang mendapat pelecehan.

Kuasa hukum korban telah menanyakan langsung ke Kantor Oditur Militer mengenai perkembangan perkara penganiayaan wartawan dari POM AU. Berkas memang sudah dilimpahkan, namun pihak Oditur Militer menyatakan bahwa kedua tersangka tidak ditahan.

“Kami mendesak agar kedua tersangka segera ditahan dan berkas perkara segera di Limpahkan ke pengadilan militer untuk disidangkan agar pelapor mendapatkan kepastian hukum, karena tidak mungkin status mereka tersangka selamanya karena proses hukum yang tidak benar," ujar Aidil.

Adapun dua tersangka yang berkasnya telah dilimpahkan POM AU Lanud Soewondo ke Odmil Medan yakni atas nama Kiren Singh dengan berkas nomor : 42/XII/2016/SWO dan Rommel P Sihombing dengan berkas nomor : 43/XII/2016/SWO.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Agoez Perdana, mendesak agar prajurit TNI AU tersangka penganiaya jurnalis di Sari Rejo segera ditahan. AJI mendorong persidangan kasus itu dilaksanakan secara terbuka dan dimasukkan dakwaan pasal pidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Secara terpisah, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu mengatakan, terhitung sejak Februari 2017, ada tiga korban yang menerima perlindungan langsung dari LPSK.

Meliputi perlindungan pemenuhan hak prosedural berupa pendampingan hak informasi kepada perlindung. Dimana bila pelindung menjalani proses pemeriksaan, baik penyidikan dan persidangan di pengadilan akan didampingi LPSK.

“Bila ada informasi yang diterima LPSK terkait perkembangan kasus, juga akan diberi tahu kepada pelindung. Dan juga LPSK memberikan bantuan psikologis bila ada trauma dari korban yang masih diperlukan untuk pemulihan,” terangnya.

Untuk proses pemantauan perkembangan kasus, diakui Edwin bahwa LPSK secara regular akan terus melakukan komunikasi dengan TNI AU.

“Saat ini kita menunggu proses kelanjutan dari penetapan tersangka, dan proses hukum ini harapannya bisa berakhir di pengadilan. Kemudian kasus ini juga bisa memberikan efek jera kepada para pelaku,” jelasnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(dnb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini