Share

Innalillahi.. Pasutri Ini Kompak Gantung Diri

Agregasi Jawapos.com, Media · Sabtu 01 April 2017 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 01 340 1656342 innalillahi-pasutri-ini-kompak-gantung-diri-53oIGpTV28.jpeg ilustrasi (Foto: Jawa Pos)

BLITAR - Bisa jadi setiap orang akan geleng-geleng kepala sambil tak percaya melihat peristiwa tragis ini. Bagaimana tidak, bila pasutri ditemukan tewas dalam keadaan tergantung lehernya di sebatang pohon yang melintang di atas sungai. Setelah diselidiki polisi, ternyata keduanya murni gantung diri.

Pasutri yang nekat gantung diri itu adalah Miseno (52) dan Siti Nafiah (51). Peristiwa bermula saat seorang warga Dusun Wonorejo, Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Blitar, Jatim, Muriyah (50) yang merupakan petani setempat hendak berangkat ke sawah sekitar pukul 06.30 WIB, Jumat kemarin. Saat itulah Muriyah melihat pasutri itu gantung diri di pohon setinggi delapan meter di tepian sungai.

Saksi langsung berbalik arah, dan berteriak-teriak untuk memanggil warga yang paling dekat. Karena jarak antara perumahan warga dengan jembatan tersebut sekitar 40 meter, akhirnya hanya dalam hitungan beberapa detik warga datang. Warga yang datang termasuk Agus Saefudin, menantu Miseno.

“Agus memastikan kalau dua tubuh yang tergantung tersebut adalah mertuanya,” kata Kasatreskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono, dikutip dari laman Jawa Pos, Sabtu (1/4/2017).

Untuk memastikan penyebab kematian keduanya, polisi meminta kepada keluarga agar jenazah pasuri diautopsi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mardi Waluyo. Menurut Kasatreskrim, pada jenazah Miseno ditemukan tali biru. Sementara cara membuat simpul pada leher Miseno dan istrinya identik.

“Diduga memang satu di antara mereka mengikat keduanya bersama-sama gantung diri. Keduanya murni meninggal karena bunuh diri, terlihat dari luka di leher dan keluarnya cairan dan kotoran dari tubuh ,” bebernya.

Belakangan baru diketahui, penyebab keduanya bunuh diri bersama diduga karena hubungan suami-istri itu sedang panas dan memang sering cekcok. Kabarnya Miseno menduga dan menuduh istrinya tercinta menjalin hubungan dengan pria lain alias selingkuh dengan tetangga dekat.

Menurut kesaksian dari keluarga, akhir tragis kedua pasutri ini disebabkan dengan adanya pihak ketiga yang masuk dalam hubungan rumah tangga suami istri yang sudah kurang lebih 25 tahun berumah tangga. Selama ini keluarga buruh petani itu sudah dikarunia 3 orang anak.

“Ya, dari kesaksian keluarga ada pihak ketiga yang menyulut keretakan hubungan keduanya. Ini pula yang akhirnya diduga nekat berbuat gantung diri bersama,” tegas perwira yang menyandang pangkat balok tiga di pundak ini.

Sementara Agus Saefudin, menantu Miseno yang merupakan suami dari anak pertama almarhum, Inaliyati mengaku sudah hampir setahun ini mertuanya sedang tidak akur. Bahkan sering cekcok meskipun tidak sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Penyebabnya mertua perempuannya diduga memiliki pria idaman lain. Ini yang sering menyulut pertengkaran dan cekcok berkepanjangan,” aku pria 33 tahun ini.

Sebelumnya, lanjut Agus, Miseno sering mengucapkan bahwa kalau keluarganya tidak bisa dipertahankan lagi, maka mengancam akan mengajak istrinya untuk mati bersama. Dan itu sangat sering didengar oleh seisi rumah. Padahal saat itu tidak dalam kondisi bertengkar.

“Saya sudah dua bulan diminta tinggal di rumah mertua. Sebenarnya saya dan istri tinggal di Ponggok. Dan memang bapak (Miseno-red) sering ngomong bahwa kalau keluarganya tidak bisa dipertahankan maka akan mengajak ibu mertua meninggal bersama. Ternyata seperti ini jalan yang sering dia katakan,” ungkap pria tiga anak ini.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini