nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kembangkan Fasilitas Militer, Filipina Dituduh Duduki Pulau Baru di LCS

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 07 April 2017 16:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 04 07 18 1661630 kembangkan-fasilitas-militer-filipina-dituduh-duduki-pulau-baru-di-lcs-ZniMEI3YG0.jpg Seorang tentara Filipina berjaga di Pulau Thitu (Foto: Ritchie Tongo/Reuters)

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte mengeluarkan perintah agar militer segera mengembangkan fasilitas di Pulau Thitu yang berada di Laut China Selatan (LCS). Ia juga dengan bercanda mengatakan hendak mengunjungi salah satu pulau dengan jet ski serta menancapkan bendera nasional Filipina tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan yang jatuh setiap 12 Juni.

Komentar tersebut dianggap sebagai deklarasi pendudukan pulau-pulau baru di LCS. Namun, Kementerian Pertahanan Filipina mengatakan, Negeri Lumbung Padi hanya akan mengembangkan fasilitas yang sudah ada di pulau tersebut, bukan hendak menduduki pulau baru.

“Maksud Presiden Duterte adalah area yang sudah diduduki Filipina,” ujar juru bicara militer Filipina, Brigadir Jenderal Restituto Padilla, mengutip dari Reuters, Jumat (7/4/2017). Klarifikasi tersebut diperkuat oleh pernyataan Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana.

“Presiden ingin pembangunan fasilitas seperti barak, sistem pengairan dan saluran pembuangan, generator listrik, mercusuar, serta tempat singgah bagi para nelayan,” timpal Delfin Lorenzana. Pulau Thitu diketahui berada dekat dengan Gugus Karang Subi, salah satu dari tujuh pulau artifisial milik China di Kepulauan Spratly.

Filipina sendiri dilarang untuk menduduki pulau-pulau baru di LCS sesuai kode etik informal yang diterbitkan pada 2002. Filipina mengokupasi sembilan pulau kecil di LCS pada dekade 1990. Mereka bahkan berupaya mengembangkan fasilitas di sana, tetapi dihentikan pada 2013 ketika mengajukan gugatan ke China.

Filipina menggugat China ke Mahkamah Arbitrase Internasional (PCA) setelah nelayan mereka diusir dari Kepulauan Spratly. Gugatan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Filipina lewat putusan yang dikeluarkan pada Juli 2016 atas klaim sembilan garis putus-putus (nine-dashed lines) China di LCS.

Negeri Panda sengaja membangun sejumlah pulau buatan di Kepulauan Spratly demi memperkuat klaim tersebut. Namun, klaim tersebut memunculkan sengketa Laut China Selatan karena tumpang tindih dengan wilayah kedaulatan Taiwan, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini