nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dana Abadi Pendidikan Mendapat Tambahan Rp10 Triliun

ant, Jurnalis · Jum'at 14 April 2017 19:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 14 65 1667615 dana-abadi-pendidikan-mendapat-tambahan-rp10-triliun-RgTGf97tha.jpg Ilustrasi : (Foto: Dok. Okezone)

PANGKAL PINANG - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengucurkan dana sebesar Rp10 triliun untuk tambahan dana abadi pendidikan.

"Pada 2017 kami mengharapkan tambahan Rp10 triliun ke dalam dana pendidikan yang nantinya hasil pengelolaan dananya digunakan untuk beasiswa dosen dan lainnya," ujar Menristekdikti, Nasir, di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Jumat (14/4/2017).

Kucuran dana tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi Rp150.000 triliun pada 2018. "Kami mengharapkan pada 2030 kita bisa memiliki anggaran untuk pendidikan mencapai Rp400 triliun," katanya.

Nasir memberi prioritas kepada dosen-dosen yang mengajar di perguruan tinggi negeri baru (PTNB) untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang doktor.

"Lalu bagaimana mengganti dosen yang ada sekarang lagi belajar. Kami minta agar kerja sama dengan pemerintah daerah agar pegawainya yang sudah pascasarjana ditarik ke Kemenristekdikti dan bisa mengajar. Tahun depan kami berharap ada kuota penerimaan dosen untuk PTNB," ujarnya.

Dia memberi contoh Universitas Bangka Belitung yang merupakan PTNB dan saat ini memiliki 186 dosen. Sebagian besar dosen Universitas Bangka Belitung sedang menempuh pendidikan.

"Kami menargetkan pada 2024 semua dosen Universitas Bangka Belitung sudah doktor semua," kata dia.

Dalam kesempatan itu, ia meminta PTNB untuk menentukan milestone atau tonggak pencapaian selama 20 tahun ke depan.

"Terutama untuk PTNB seperti Universitas Bangka Belitung. Jadi perlu suatu organisasi yang baik, yang mengetahui apa yang harus dikerjakan hingga 20 tahun ke depan," katanya.

Dengan adanya tonggak pencapaian tersebut, universitas tahu apa yang dikerjakan dan tidak berganti-ganti kebijakan.

"Jangan sampai ganti rektor, ganti lagi kebijakan. Ganti rektor seharusnya menguatkan kebijakan yang sudah ada, bukan malah menggantinya," katanya dia. (afr)

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini